Friday, November 28, 2025

Rindu yang Menyebut Namamu dalam Doa

RINDU YANG MENYEBUT NAMAMU DALAM DOA

Hari ini aku tidak memencet nomor itu, pa
Hanya hening yang menyentuh jariku
Seakan berkata jarak kita
Kini dijaga takdir Allah semata

Delapan puluh tujuh tahun lalu
Allah datangkan engkau ke dunia
Menebarkan kebaikan yang lembut
Yang kini kusentuh lewat ingatan saja

Kini papa pulang
Menghadap Allah Yang Maha Penyayang
Tiada lagi rasa sakit
Hanya damai yang memelukmu tenang

Ajaranmu tinggal
Lurus, jujur, apa adanya
Kusimpan seperti dzikir
Yang hidup di dalam dada

Sebulan lebih berlalu
Rindu ini tak pernah reda
Maafkan anakmu yang masih rapuh
Pa… namamu kusebut dalam sujud yang lama

Perbanyaklah mengingat kematian
Agar hidup tak menipu jiwa
Sebab yang sempit menjadi lapang
Dan yang lapang kembali sederhana

Mas Bojreng 28 November 2025

#GriefAndGrace #RememberingFather #FaithAndPatience #LoveBeyondLife #ReturnToAllah
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Tuesday, November 25, 2025

Bayang guru, cerita dari anak seorang guru

Ayahku seorang guru. Dari kecil aku lihat sendiri gimana beliau ngajar bukan cuma lewat papan tulis, tapi lewat sikap dan keteladanan. Berangkat pagi buta, pulang sore dengan wajah lelah tapi mata yang selalu berbinar, cuma karena ada satu murid yang akhirnya paham hari itu. Dari beliau aku ngerti bahwa ilmu itu bukan soal siapa paling jenius, tapi siapa yang paling tulus berbagi.

Waktu aku lulus dan disumpah di bawah Al-Qur’an—ada satu kalimat yang masih nancep di dada sampai sekarang: “Saya akan memberikan kepada Guru-guru saya, penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.” Kadang kalimat itu datang kayak ketukan lembut di kepala: sudahkah aku menghormati ilmu dan orang yang ngajarin aku jadi manusia?

Sekarang aku lihat banyak banget orang pintar, tapi nggak semua orang pintar bisa jadi guru. Ada yang hebat teori tapi nggak bisa bikin orang ngerti. Ada yang gelarnya panjang, tapi hatinya sempit. Dan aku makin yakin, guru itu bukan cuma yang berdiri di kelas—tapi juga yang ngajarin lewat sabar, lewat contoh, lewat nasihat yang pelan tapi nancep.

“Guru yang biasa memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang hebat menunjukkan. Tapi guru yang luar biasa menginspirasi.”
Dan mungkin, dunia ini bakal jauh lebih baik kalau lebih banyak orang mau jadi guru—minimal jadi guru untuk dirinya sendiri. Belajar ngerti diri, belajar jadi lebih baik, belajar punya hati.

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2026. Buat semua guru, formal atau informal, yang ngajarin ilmu dan sekaligus ngajarin jadi manusia—makasih, beneran dari hati yang paling dalam.

Bayang Guru

Banyak kepala penuh teori,
tapi hati kosong tak mengenali nurani.
Ilmu dijual seperti komoditi,
padahal ia lahir dari pelukan sepi.

Di jalan hidup yang makin riuh,
banyak suara keras tapi kosong.
Andai kita belajar lebih pelan dan lebih jujur,
mungkin dunia akhirnya bisa bernapas.

Percakapan Mas Bojreng dan Mbak Bojreng pagi ini, dan ternyata hari ini adalah hari guru.

#TeacherDay #WisdomBeyondWords #TeachWithHeart #LearnToBeHuman #InspireSilently
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Sunday, November 23, 2025

Wajah di Balik Filter

Kadang kita kejebak sama apa yang keliatan di permukaan—feed Instagram yang estetik, senyum ramah, caption bijak ala motivator. Tapi hati-hati, looks can be deceitful. Nggak semua yang tampak indah itu tulus, dan nggak semua yang terlihat biasa aja itu nggak berharga. Di era medsos, gampang banget kita terpukau sama orang yang keliatan “sempurna”—padahal bisa jadi cuma topeng digital. Kalau mau tahu siapa orang sebenarnya, jangan berhenti di kulit luar—tatap matanya, rasakan ketulusannya, lihat gimana dia bersikap saat nggak ada kamera. Ketika cahaya sorot padam, di situlah ketahuan mana yang memang jujur, mana yang cuma acting.

Islam tuh udah ngingetin dari dulu: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra’ 17:36). Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim, no. 2564). 

Jadi, ini sebenarnya adalah self reminder tapi kalau ada yang baper ya sudah, intinya jangan gampang terpana atau terpesono  dan dengan gampangnya nge-judge, jangan sampailah cuma ngurusin tampilan luar. Tugas kita bukan mencari siapa yang paling keren, tapi siapa yang paling ikhlas. Karena pada akhirnya, yang Allah lihat bukan filter, bukan pencitraan—tapi hati.

Wajah di Balik Filter

Kita bersalin rupa,
Berpose seolah bahagia,
Padahal sunyi menggema,
Di balik layar, siapa kita?

Cermin tak lagi jujur,
Sorot mata penuh sensor,
Hati pelan-pelan kabur,
Kejujuran jadi rumor.

Mas Bojreng pencitraan

#TruthBehindTheMask #FilteredReality #EyesDontLie #BeyondTheSurface #SilentConfessions
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Tuesday, November 18, 2025

Saat Sabar Tak Dilihat

Kadang kita baca satu kalimat, dan rasanya kayak ada yang nonjok pelan di dada. “Akan ada waktu ketika orang yang sabar jadi muak, orang yang peduli jadi masa bodoh, orang yang setia memilih pergi.” Dalam hidup, kita sering diminta untuk sabar, peduli, setia—tapi gak ada yang bilang kalau itu semua butuh energi hati yang gak kecil. Kenyataannya, capek itu nyata. Dan ketika kebaikan kita gak dihargai, wajar kalau muncul rasa lelah. Bukan karena kita kurang ikhlas, tapi karena kita manusia—punya batas, punya rasa sakit yang gak kelihatan.

Tapi dari kacamata Islam, Allah gak pernah sia-siain setiap tetes sabar yang kita tahan, setiap peduli yang kita berikan, setiap setia yang kita jaga. Kalau manusia gak menghargai, Allah yang simpan nilainya, rapi, tanpa ada yang hilang. Dalam Al-Qur’an. (QS. At-Taubah: 120). Dan Rasulullah ﷺ juga mengingatkan, "Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari-Muslim). Jadi, boleh kok capek, boleh kecewa—asal jangan berhenti berbuat baik hanya karena manusia. Kita gak sedang menunggu apresiasi mereka—kita sedang menabung di sisi Allah. Karena ketika hati kita lelah, bisa jadi itu tanda: saatnya berhenti berharap balasan dari manusia, dan mulai benar-benar menyerahkan semuanya hanya kepada Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam Al Insyirah ayat 8 , yang artinya
“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
Menurut tafsir Kemenag, dalam ayat tersebut Allah menegaskan agar Nabi Muhammad hanya menuntut keridhaan Allah semata. Sebab, hanya kepada-Nya-lah manusia merendahkan diri.

Janganlah terlalu berharap kepada sesama manusia.

Saat Sabar Tak Dilihat

Aku menanam sabar di tanah sunyi
Tak ada yang memuji, tapi Allah melihat
Kutabur peduli tanpa balasan manusia
Sebab Dia yang menulis setiap kebaikan

Biarlah yang pergi hilang dalam waktu
Aku tetap setia meski tanpa tepuk tangan
Sebab hati ini bukan milik mereka
Ia pulang hanya kepada Tuhan

Pengingat diri Mas Bojreng

#SilentPatience #UnseenKindness #FaithfulHearts #ForAllahAlone #QuietStrength
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Monday, November 17, 2025

Suara yang Tak Pernah Padam

Kadang aku kangen banget sama suara almarhum Papa. Bukan cuma suaranya, tapi kalimat yang paling sering beliau ulang, kayak kaset jadul yang diputar terus: “Jaga emosimu, Tom. Jangan gampang terpancing. Ucapkan istighfar.” Dulu aku cuma angguk-angguk, tapi sekarang, setelah ketemu macam-macam orang dengan karakter yang aneh-aneh, baru kerasa betapa dalamnya pesan itu. Ada yang maunya menang sendiri, ada yang kalau diajak ngobrol baik-baik malah ngegas duluan, ada juga yang keras kepala kayak batu. Dan rasanya kayak Papa ngomong lagi di kepala, “Sabar, Tom. Istighfar dulu.”

Papa pernah bilang, kita bakal ketemu orang dari segala level—pendidikan beda, pemahaman nggak sama, cara mikir juga jauh. Jadi jangan heran kalau ada yang suka bantah, sok benar, atau nggak mau ngalah. Tahan emosimu, jangan kebawa arus. "Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata kasar), mereka menjawab dengan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63). Nabi ﷺ juga bilang: “Bukanlah orang kuat itu yang menang bergulat, tapi yang mampu menahan diri saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim). Kadang bukan soal menang debat, tapi menang lawan diri sendiri. Dan di situ, kata Papa, istighfar adalah kuncinya.

SUARA YANG TAK PERNAH PADAM

Aku pernah bertanya kepada angin,
“Ke mana suara Papa pergi setelah tubuhnya terbaring sunyi?”
Dan angin menjawab,
“Suara yang lahir dari cinta tak pernah mati, hanya berpindah tempat di dalam hatimu.”

Lalu aku mendengar bisikan lembut itu setiap kali amarah mengetuk dadaku:
“Tahanlah emosimu, Tom… ucapkan istighfar.”
Maka aku pun tahu,
Bahwa ada nasihat yang tidak membutuhkan kehadiran fisik untuk terus hidup.

Mas Bojreng saat diam

#Patience #InnerPeace #FatherlyWisdom #HoldYourAnger #WhisperOfTheHeart
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Saturday, November 15, 2025

Pakaian yang Tak Terukur

Begitu baju kamar operasi nempel di badan, selalu ada momen kecil buat mikir: ini sebenernya outfit termahal yang pernah aku pakai—bukan karena harganya, tapi karena ditukar sama masa muda, mental yang naik-turun, stres yang nggak keitung, begadang panjang, rasa sakit, dan jarak dari rumah. Ada nyesel? Nggak. Dari kecil udah mimpiin ini. Cuma ya… kalau capek dan jenuh numpang lewat, wajar kan? Aku juga manusia. Tapi tiap kali ingat almarhum Papa dulu nanya, “Siapa yang suruh kamu jadi dokter?” rasanya langsung ketampar halus. Senyum dan ucapan terima kasih dari pasien tuh cukup banget buat ngepulihin hati—kayak reminder lembut kalau semua ini ada maknanya.


Kamsahamnida...



Pakaian yang Tak Terukur

Di balik baju operasi,
kutitipkan masa muda yang pergi.
Lelah menepi di sudut-sudut sunyi,
namun mimpi tetap berdiri.

Pertanyaan Papa menggema lirih,
siapa yang menyuruhmu, anakku?
Senyum pasien jadi pelipur risih,
membayar luka yang tak pernah tampak.


Catatan Mas Bojreng

#MedicalJourney #SilentSacrifice #HealingPath #PurposeInPain #HeartOfADoctor
#obgyn #obgynlife #doctor
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Friday, November 14, 2025

Embun yang Menunduk


Astaghfirullah,

bisikan itu kutanam dalam dada—
agar hati tak lupa
siapa pemilik segala rasa.

Ketika sombong berdesir pelan,
kupanggil nama-Mu, Ya Allah—
ampuni langkah yang goyah,
ampuni hamba yang rapuh dan kecil.

Apa yang kupunya selain titipan?
Ilmu hanya cahaya yang Kau nyalakan,
kemampuan hanya angin yang Kau embuskan—
tanpa-Mu, aku hanyalah debu yang lupa diri.

Lenyapkan bayang sombong itu,
meski hanya sekelip dalam hati;
jadikan jiwa ini tunduk,
seperti Islam mengajarkan:
mulia itu lahir dari rendah hati.

Mas Bojreng menunduk perenungan di hari Jumat

#Humility #Istighfar #SpiritualReflection #InnerPurification #SurrenderToGod
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Thursday, November 13, 2025

Sajadah yang Menenangkan Hati

Kadang hidup tuh kayak gini aja — bangun pagi, kerja, pulang sore, lanjut mikirin banyak hal yang nggak kelar-kelar. Capek sih, iya banget. Tapi begitu liat pintu rumah, ya udah, semua ditahan. Karena anak cuma pengin pelukan, bukan cerita tentang pusingnya dunia. Istri cuma pengin lihat senyum, bukan dengar keluhan. Kadang, senyum itu bukan tanda kuat — tapi cara sederhana buat bilang, “Aku masih berjuang buat kalian.”

Kayak Guido di film Life Is Beautiful — dunia di sekelilingnya udah kacau, tapi dia masih bisa bercanda, pura-pura semuanya baik-baik aja, biar anaknya nggak takut. Padahal hatinya sendiri remuk. Tapi ya begitulah yang namanya cinta itu, harus bisa selalu berusaha untuk bikin orang yang kita cintai dan sayangi untuk selalu tetap tersenyum di tengah runtuhnya dunia disekeliling.

Cuma, satu hal yang sering kita lupain: semua itu jangan sampai dijalani karena terpaksa. Lakuin dengan ikhlas. Karena kalau dari hati, capek pun rasanya beda. Ada tenangnya. Ikhlas itu bukan pas nggak berat, tapi pas kita tetap jalan meskipun berat, karena tahu Allah ngelihat semua usaha itu.

Dan kalau dalam hati ini sudah mulai teraaa menyesakkan seakan ingin meledak, jangan terburu-burulah atau kesusu untuk cari tempat untuk curhat. Nggak semua orang bisa ngerti. Kadang malah jadi bahan omongan. Jangan juga curhat ke medsos, itu cuma bikin kita makin kosong. Datanglah ke Allah. Sujud, nangis, ceritain semuanya. Allah nggak bakal bosan dengerin, bahkan waktu kita cuma bisa bilang “Ya Allah, aku capek.”

Allah sendiri udah janji dalam Surah Al-Insyirah ayat 6:
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Santai aja… hidup nggak harus selalu mulus. Capek itu wajar, bagian dari jalan. Tapi yakin deh, tiap lelah ada artinya, tiap sabar pasti dibalas. Sabar saja tunggu waktunya, Inshaa Allah nanti Allah bakal buktiin sendiri.

Ini cuma pengingat buat saya sendiri supata tetap senyum selalu, tetap jalan terus, jangan pernah nyerah, tetap apa adanya, dan tetap ikhlas.Jangan berhenti cuma karena alesannya capek. Kalau dunia udah terlalu bising, cari sajadah, bukan perhatian orang. Ceritalah ke Allah — Dia yang paling tahu cara nenangin hati. 🤍

Sajadah yang Menenangkan Hati

Setiap pagi, langkah berulang,
mata mulai lelah menatap waktu yang sama.
Tapi di balik pintu yang sederhana,
senyum kecil menjadi alasan untuk bertahan.

Dunia di luar mungkin runtuh,
tapi tawa anak menegakkan jiwa.
Seperti Guido yang bercanda di tengah perang,
cinta membuat luka terasa tidak sia-sia.

Ikhlas, katanya—itu rahasia yang tenang,
bukan karena mudah, tapi karena rela.
Sebab Allah tahu,
bahwa sabar yang tulus tak pernah hilang arah.

Dan saat dada terasa penuh dan sesak,
jangan cari telinga yang tak mengerti.
Sujudlah—biar air mata bicara,
karena di sajadah, semua lelah berubah jadi doa. 🤍

Pengingat diri Mas Bojreng

#FaithAndStrength #DailyReflection #PatienceAndHope #FamilyFirst #TrustInAllah
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Wednesday, November 12, 2025

Kenapa Sih Kalau Ada Ambulans Kita Harus Ngasih Jalan?

Kemarin melihat ada ambulans yang membunyikam sirine, dan kesulitan saat akan berbelok menembus jalur yang ramai. Beberapa saat yang lalu juga melihat di tol ada beberapa kendaraan yang acuh saja. Pernah saya alami saat mengantar alm papa didalam ambulans.

Katanya sih sopan di jalan,
Tapi pas ambulans lewat malah ngegas.
Eh, kebaikan tuh nggak butuh alasan,
Minggir dikit aja udah kelas

Kenapa Sih Kalau Ada Ambulans Kita Harus Ngasih Jalan? Emangnya Sepenting Apa?

Kalau lagi nyetir santai terus tiba-tiba muncul suara “Wiuu! Wiuu!”, otomatis jantung ikut deg-deg-an. Yup, itu tandanya ambulans lagi minta jalan. Dan di momen itu, sebenarnya kita semua punya peran penting banget: minggir.

1. Kenapa Harus Ngasih Jalan?

Karena di dalam ambulans ada nyawa yang lagi berpacu dengan waktu. Bisa pasien serangan jantung, ibu hamil mau melahirkan, kecelakaan, atau pasien kritis yang hitungan menit aja bisa menentukan hidup atau tidaknya seseorang.
Bayangin aja kalau itu orang yang kita sayang, keluarga, sahabat. Kita pasti pengen mobil lain langsung kasih jalan tanpa banyak mikir. Nah, saat ambulans lewat, posisikan diri sebaliknya: kita yang bisa bikin nyawa orang lain selamat cuma dengan satu gerakan simple—minggir.

2. Gunanya Apa?

Gunanya besar banget:
  • mempercepat ambulans sampai ke rumah sakit
  • mencegah kondisi pasien makin drop
  • mengurangi risiko kecelakaan di jalan
  • bikin jalur evakuasi jadi lebih aman
Satu detik kita minggir = satu detik lebih dekat ke pertolongan.

3. Kalau Nggak Mau Minggir, Apa Akibatnya?

Waduh, jangan remehin ya — kalau kita cuek pas ambulans lewat, efeknya bisa panjang banget! 🚨
  • Pertama, nyawa orang bisa jadi taruhannya. Bayangin aja, di dalam ambulans itu mungkin ada pasien yang lagi antara hidup dan mati, dan detik demi detik tuh berharga banget. Kalau ambulansnya kehalang karena ada yang nggak mau minggir, bisa-bisa terlambat sampai rumah sakit… dan fatal.
  • Kedua, jalan jadi chaos! Sopir ambulans akhirnya harus zig-zag nyari celah, ngerem mendadak, atau malah ambil jalur lawan arah. Bahayanya bukan cuma buat pasien, tapi juga buat pengendara lain.
  • Bikin stres keluarga pasien yang lagi panik.
  • Dan… ada sanksi hukumnya. Yes lah, jadi bukan cuma soal etika yang ini saja jelas tapi juga soal aturan.
Intinya, minggir sedikit fan sebentar itu nggak bakalan deh bikin rugi. Cuma geser dikit, tapi bisa nyelametin nyawa orang. Lagipula, siapa sih yang tahu, sopo sing ngerti? Besok-besok mungkin kita atau bahkan orang yang kita sayang yang butuh untuk jalan cepat itu, bukannya saya nge doa in lhonyaaa


4. Ada Aturannya Nggak? Ada Banget.

Di Indonesia, ambulans itu masuk kategori kendaraan prioritas. Aturannya jelas tertulis.
Nah, ini dia yang sering dilupain orang 😅
  • Jadi gini ya di UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tepatnya Pasal 134, udah jelas banget tertulis disitu disebutkan kalau kendaraan kayak ambulans, mobil pemadam, atau polisi itu harus diprioritaskan pas lagi bertugas.
  • Artinya? Ya, kalau ada ambulans yang lagi nyala sirinenya, itu tandanya dia lagi “on duty” alias bukan sekadar jalan-jalan sore. Kita yang di jalan wajib kasih jalan.
  • Nah, kalau masih nekat nggak mau minggir, siap-siap aja ya, soalnya di Pasal 287 ayat 4 udah ada aturannya juga — bisa kena tilang atau denda. Jadi, bukan cuma soal sopan santun di jalan aja, tapi juga udah diatur resmi sama negara.
Tapi ya balik lagi, ngapain juga bikin ribet? 😅 Kadang cuma geser setengah meter aja udah bantu banget buat ambulans lewat. Jadi daripada bikin suasana jalan makin panas, mending minggir dikit, hati adem, dan siapa tahu bisa jadi penyelamat nyawa orang. 🚑💨


5. Terus Gimana Kalau Ada Berita Ambulans Kosong Tapi Sirine Jalan?

Nah, ini sering bikin netizen galau.
Jawabannya simpel: husnudzon dulu.
Ambulans bisa aja:
  • Lagi menuju lokasi jemput pasien gawat,
  • Lagi transport organ,
  • Atau dalam kondisi emergency lain yang nggak selalu kelihatan dari luar.
Dan kalau pun ada oknum sopir ambulans yang nakal, ya… itu urusan mereka dengan Allah.

Buat yang muslim Ingat aja pesan yang tertulis  dalam Surah Yasin ayat 65:
“Hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Artinya?
Semua bakal dihitung dan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, masih beranikah kita? Kita fokuskan saja pada bagian kita: bantu apa yang bisa kita bantu, permudah apa yang bisa kita permudah. Ojo ngeyel karepe dewe.

6. Kalau Mereka Bohong?

Kalau ternyata ada yang pakai sirine cuma buat gaya-gayaan padahal nggak urgent, ya udah… itu urusan dia sama Tuhan, bukan urusan kita 😌
Kita nggak usah ikut emosi atau suudzon. Toh, niat kita udah bener, mau bantu jalan karena mikir mungkin ada nyawa yang lagi butuh pertolongan. Jadi kalau ternyata dia bohong, dosanya di dia, tapi pahalanya tetep ngalir ke kita karena udah niat baik.
Inget aja, kebaikan sekecil apapun — bahkan cuma minggir beberapa detik — tetep dicatat. Kadang hal kecil kayak gitu yang justru bikin hati tenang dan hidup lebih berkah. 🚑✨

Jadi Kesimpulannya?

  • Minggir itu bukan ribet, cuma butuh niat baik.
  • Nyawa orang bisa tertolong karena satu keputusan kecil.
  • Ada undang-undangnya, bukan cuma etika.
Dan kalau pun ada oknum yang nggak jujur? Biarkan. Kita tetap berbuat baik. Allah yang balas, dan setiap langkah kita saksi.

Pantun lagi biar kayak pejabat

Naik motor sambil bawa rantang,
Lihat ambulans jangan pura-pura buta.
Geser dikit nggak bikin hilang uang,
Tapi bisa selamatin nyawa di dunia


Catatan Mas Bojreng teringat saat naik ambulans

#GiveWaySaveLives #StayKindOnTheRoad #RoadEmpathy #SmallActBigImpact #MinggirDuluBro #BantuAmbulansLewat #NyawaLebihBerharga #JalanUntukKemanusiaan #catatanmasbojreng #maebojreng

Tuesday, November 11, 2025

Pahlawanku Diantara Langit


Di Hari Pahlawan ini, aku belajar bahwa keberanian

tak selalu bersorak di medan perang,
kadang ia duduk diam di ruang kecil rumah kami,
dalam wujud seorang ayah yang menahan letih tanpa suara.

Engkau, ayahku—pahlawan yang tak pernah menuntut pujian,
superman yang menyembunyikan luka di balik senyum yang tenang.
Kini engkau telah kembali pada Rabb-mu,
pulang ke tempat di mana sakit tidak lagi punya arti.

Dan aku di sini, menatap langit yang dulu kau ajarkan untuk berharap,
mengirim doa yang tak henti mengalir menuju keabadianmu.
Sebab tiada hadiah terbaik untuk seorang pahlawan
selain doa anak yang merindukanmu setiap hari.

Mas Bojreng 10 November 2025

#HeroDay #MyFatherMyHero #RestInAllahsPeace #ForeverInMyPrayers #EternalLove
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Monday, November 10, 2025

Di Antara Sunyi yang Menjaga

Pagi ini aku datang lagi ke tempat istirahat terakhirmu, Pa. Sunyi di sekitar terasa hangat, bukan sepi yang menakutkan—lebih kayak ruang kecil yang mempersilakan hati buat jujur. Di depan nisanmu, hidup rasanya melambat.

Ada satu nasihat yang tiba-tiba naik ke permukaan, entah dari sudut mana ingatan itu muncul. Mungkin karena dulu kamu mengucapkannya dengan senyum tipis yang bikin semuanya terasa ringan: bahwa mengingat mati itu bukan untuk menakut-nakuti siapa pun, tapi semacam sentuhan halus yang ngingetin kita supaya nggak terlalu jauh melayang, supaya kita ingat untuk merapikan diri, menata hati, dan kembali pada hal-hal yang benar-benar penting. Kadang pesan sederhana kayak gitu justru yang paling nancep—pelan, tapi terus bergema.

Aku jadi teringat sabda Rasulullah tentang “pemutus kelezatan”—bahwa mengingat kematian itu bisa bikin hati lapang saat hidup lagi sempit, dan bisa bikin kita turun dari awan-awan nyaman ketika hidup lagi terasa luas. Ada renungan yang pelan meresap: mungkin memang begini caranya Allah ngasih jeda, biar kita nggak terlalu terseret dunia. Matur nuwun, Pa. Inshaa Allah, setiap habis sholat aku tetap “datang” ke sini lewat doa—pelan, jujur, dan penuh harap—karena rindu kadang cuma bisa dipulangkan lewat cara-cara yang diam.

Di Antara Sunyi yang Menjaga

Pagi ini aku datang lagi, Pa,
di depan nisanmu waktu terasa menunduk.
Sunyi menyelimuti langkahku hangat-hangat sepi,
membiarkan hati membuka yang selama ini dipendam.

Ada nasihatmu yang kembali mengetuk,
lembut seperti senyum yang dulu meredakan gelisah.
Bahwa mati bukan bayang yang menakutkan,
melainkan lampu kecil yang mengarahkan jiwa pulang.

Dan di setiap selesai sujudku,
rindu itu pelan naik jadi doa.
Kupulang kembali padamu lewat bisikan yang tenang,
semoga Allah menjaga kita di dua dunia yang berbeda namun tetap dekat.


Mas Bojreng dalam sendiri

#Remembering #Gratitude #SilentPrayers #EternalBond #PeaceWithin
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Saturday, November 8, 2025

Dan itu… sudah cukup.

Pernah nggak, suatu pagi bangun dan rasanya dunia sudah “jalan duluan”?

Baru melek setengah, masih nyari arah, eh tangan otomatis ngecek ponsel.
Belum sempat tarik napas, langsung lihat orang yang lagi liburan, ada yang pamer upgrade hidup, ada yang posting kata-kata bijak ala motivator profesional.

Dan kita?
Masih duduk di pinggir kasur sambil mikir,
“Ini orang-orang kok hidupnya selalu rapih amat, ya?”

Padahal kalau boleh jujur, hidup itu nggak sesempurna itu.
Ada hari yang semangat banget.
Ada hari yang cuma pengin minum hangat dan diam.
Ada hari yang rasanya mau senyum, tapi ada juga hari yang rasanya “udah lah”.

Tapi dunia medsos kayak nggak kenal konsep hari buruk.
Di sana semuanya harus mulus, cerah, tersenyum, dan penuh pencapaian.

Kadang kita sampai lupa rasanya jadi diri sendiri…
yang apa adanya, bukan yang selalu kelihatan “si paling positif”.

Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu kalimat Rasulullah ﷺ yang rasanya cocok banget buat zaman sekarang:
“Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tapi hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Kalau dibahasakan ala zaman sekarang:
Allah nggak peduli feed kamu aesthetic atau tidak.
Yang Allah lihat: apa yang kamu lakukan saat tidak ada kamera.

Kebayang nggak betapa lega sebenarnya hidup kalau ingat itu?

Coba bayangin rutinitas kita sehari hari:
Bangun pagi, bikin kopi panas, lalu menyingkap korden pelan-pelan.
Buka jendelanya, biarin angin masuk dengan sendirinya, dan memulai hari dengan tidak buru buru.
Hal-hal sederhana kayak gitu nggak bakal muncul di layar mana pun,
tapi justru di situlah hidup terasa nyata..
Tidak ada rating bintang.
Tidak ada komentar.
Tapi Allah lihat semuanya.

Di medsos itu lucu… semua orang bisa kelihatan super bahagia, padahal hatinya lagi remuk.
Bisa tampak religius banget, padahal cuma buat konten.
Bisa kelihatan sukses luar biasa, padahal tiap malam pusing mikirin hidup.

Allah berfirman dalam Qur’an:
“Jangan campur kebenaran dengan kebatilan.” (Al-Baqarah: 42)

Kalau dipikir-pikir, buat hidup kita yang sekarang, pesannya simpel banget:
jangan sampai diri sendiri hilang cuma karena sibuk bikin citra.
Nggak perlu maksa kelihatan sempurna,
apalagi berubah jadi sosok yang sebenarnya kita sendiri bingung, “ini siapa?”

Kadang yang kita butuhin cuma keberanian buat muncul apa adanya.
Tanpa topeng. Tanpa polesan. Tanpa harus pura-pura kuat.
Nggak perlu jadi tokoh yang bukan diri kita.

Dan lucunya… begitu berani jadi diri sendiri, rasanya beda banget.
Napas lebih lega, langkah lebih enteng,
dan hati—akhirnya—bisa istirahat.

Yang lucu adalah… justru hal paling berharga itu terjadi di balik layar:
saat kita nahan emosi padahal hati sudah panas,
saat bantu orang tanpa harus bilang ke siapa-siapa,
saat memaafkan tanpa bikin pengumuman,
dan saat memperbaiki diri pelan-pelan tanpa perlu spotlight.

Itu semua kecil… tapi nilainya besar banget di sisi Allah.

Hal-hal kecil itu—yang tidak di-posting—yang justru punya bobot besar di sisi Allah.

Jadi kalau hari ini ada yang kasih rating, komentar, review tentang diri kita…
nggak apa-apa.
Itu cuma opini manusia.
Besok bisa berubah lagi.

Yang tetap itu cuma satu: bagaimana Allah melihat hati ini.

Dan ketika layar akhirnya mati, aplikasi ditutup, dan notifikasi berhenti berisik…
yang tinggal itu cuma kita yang asli.

Bukan versi yang dipoles biar terlihat menarik,
bukan versi yang diedit sana-sini,
bukan versi yang dibentuk demi tepuk tangan orang.

Yang tersisa cuma diri kita—
versi jujur, versi mentah, versi apa adanya—
yang Allah sudah tahu sejak awal, sebelum dunia tahu apa-apa..

Dan itu… sudah cukup.

Saat Layar Dimatikan

Hidup tak selalu rapi,
kadang semangat meledak,
kadang cuma ingin menyesap hangat
dan mengizinkan hati beristirahat sebentar.

Di balik layar yang selalu pura-pura bahagia,
Allah melihat yang tak pernah kita unggah—
getaran niat yang tersembunyi,
dan langkah kecil yang kita jaga diam-diam.

Dan ketika semua suara padam,
tinggal kita yang paling jujur—
versi yang tak pernah butuh filter,
versi yang Allah cintai apa adanya.

Mas Bojreng dalam gelap

#AuthenticSelf #SilentGrace #HeartOverImage #UnfilteredLife #SeenByAllah
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Friday, November 7, 2025

Di Teras Senja, Percakapan Sunyi Seorang Tua dengan Tuhannya

Seorang pria tua duduk di teras rumahnya, ditemani secangkir kopi yang sudah dingin dan pikiran yang tak mau diam. Dulu, ia bekerja karena cinta — bukan karena angka. Tapi waktu berjalan, kebutuhan bertambah, dan perlahan makna itu mulai pudar. Di tengah tagihan dan kekhawatiran, ia menemukan dirinya kembali berdialog dengan Tuhan. Tentang niat yang bergeser, tentang kejujuran yang harus dijaga, dan tentang rindu yang tumbuh setiap kali jarak antara kening dan sajadahnya terasa jauh.

Lewat kesunyian sore itu, ia belajar lagi arti syukur dan ikhlas. Bahwa bahkan dalam sempit pun manusia masih bisa memberi, dan dalam lelah pun masih bisa bersyukur. Ia sadar, rezeki bukan selalu tentang uang — tapi tentang kesempatan untuk sujud, untuk tetap percaya, dan untuk terus berjalan di jalan yang Allah tunjukkan. Karena pada akhirnya, semua yang disandarkan kepada-Nya akan berakhir baik-baik saja.

Di Teras Senja, Percakapan Sunyi Seorang Tua dengan Tuhannya

Sore itu langit mulai pudar. Jingga pelan-pelan berubah jadi abu keunguan, tanda hari sebentar lagi berpamitan. Seorang pria tua duduk sendirian di teras rumahnya. Kursi rotan yang ia duduki sudah berderit, tapi tetap setia menopang tubuhnya yang mulai renta. Di tangannya memegang tongkat kayu, yang digenggam erat, seolah itu satu-satunya teman yang tersisa sore itu.

Ia memandangi halaman yang sepi, sambil sesekali menarik napas panjang. Pikiran melayang ke masa lalu—masa ketika hidup terasa lebih sederhana, ketika bekerja terasa seperti bermain. Dulu, semua hal ia lakukan karena cinta. Karena niat ingin memberi manfaat, bukan karena tuntutan angka.
“Aku dulu kerja karena cinta, bukan karena cicilan,” gumamnya pelan sambil tersenyum getir.

Tapi waktu berjalan. Anak-anak tumbuh, kebutuhan ikut tumbuh. Harga barang naik, biaya sekolah melonjak, dan tiba-tiba dunia jadi terasa sempit. Ia menyadari, perlahan pikirannya berubah. Yang dulu dilakukan dengan hati, kini mulai dilakukan karena “harus”.

Pergulatan Hati

Ia menatap langit. “Ya Allah,” ucapnya lirih, “aku takut kehilangan makna dari pekerjaanku. Takut niatku melenceng, takut bekerja hanya karena dunia.”
Angin sore berhembus lembut, seolah membelai rambut putih di pelipisnya. Dan dalam keheningan itu, ia mendengar gema kalimat yang dulu sering ia dengar:

“Apapun dunia menghancurkan isi hatimu, jangan biarkan jarak antara kening dan sajadahmu kian menjauh.”

Kalimat itu seperti mengetuk batinnya. Ia tahu, sekeras apa pun hidup menekan, satu-satunya tempat bernaung hanyalah sujud. Karena segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah, pada akhirnya akan berakhir baik.
Kadang tidak cepat. Kadang tidak sesuai harapan. Tapi pasti—dengan cara terbaik dari-Nya.

Antara Tagihan dan Tawakal

Setiap akhir bulan, pikirannya sering tidak tenang. Tentang tagihan rumah, biaya sekolah cucu, cicilan kecil yang menumpuk pelan-pelan. Kadang kepikiran sampai sulit tidur. Tapi di sela kecemasan itu, ia ingat sesuatu:
“Ketika kamu lelah dan bosan dengan pekerjaanmu, ingatlah, ada yang berdoa setiap hari untuk bisa kerja.”
Ia terdiam. Kata-kata itu menampar halus. Betapa banyak orang di luar sana yang bahkan rela melakukan apa pun demi punya pekerjaan. Sementara ia, yang sudah diberi kesempatan, malah sering lupa bersyukur.

Memberi Meski dalam Sempit

Sambil menatap halaman, ia teringat tetangganya yang sering datang minta tolong. Kadang meminjam beras, kadang cuma butuh didengar. Ia pun sering memberi, walau hatinya tahu kondisi keuangannya juga pas-pasan. Tapi entah bagaimana, setiap kali ia memberi, selalu ada jalan terbuka.

Ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Dan juga janji Allah dalam Al-Qur’an:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
— (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat itu menenangkannya. Karena Allah tidak melihat besar kecilnya pemberian, tapi keikhlasan di baliknya. Kadang memberi setengah roti lebih bernilai di sisi Allah daripada menyumbang sejuta dengan hati penuh pamrih.
“Bahkan dalam susah pun kita tetap bisa bantu orang lain,” pikirnya.
“Karena mungkin, lewat kebaikan kecil itulah Allah menolong kita kembali.”

Tentang Syukur

Ia menyeruput kopi yang sudah benar-benar dingin. Pahit, tapi jujur. Sama seperti hidup—tidak selalu manis, tapi selalu bisa disyukuri. Ia mengingat sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak.”
(HR. Ahmad)
“Benar,” gumamnya, “kalau nikmat kecil saja tidak bisa aku syukuri, bagaimana bisa aku mensyukuri nikmat yang besar?”
Ia tersenyum kecil. Kadang yang membuat hidup terasa berat bukan karena kekurangan, tapi karena lupa bersyukur.

Kembali ke Sajadah

Azan magrib berkumandang dari masjid ujung jalan. Ia berdiri perlahan, lututnya berderit, tapi langkahnya mantap. Sajadah di ruang tamu menunggu, seolah sudah tahu akan jadi tempatnya bersandar malam ini.
Ketika air wudhu membasuh wajahnya, terasa dingin tapi menenangkan. Dan saat keningnya bersentuh dengan sajadah, air matanya jatuh tanpa suara. Semua keresahan luruh, semua beban terasa ringan.

“Ya Allah,” bisiknya dalam sujud,
“Terima kasih untuk setiap rezeki, setiap ujian, dan setiap napas yang masih Kau izinkan hari ini.”
Di luar, malam menutup hari dengan lembut. Tapi di dalam hati lelaki tua itu, cahaya kecil menyala—cahaya iman yang tenang, sederhana, tapi cukup untuk menuntun langkah besok.
Karena ia tahu, selama dunia masih berisik dan penuh tuntutan, selalu ada satu tempat untuk kembali tenang:
di antara kening dan sajadah.

Catatan kecil:
Kadang kita lupa, bahwa rezeki tidak selalu tentang uang. Tapi juga tentang kesempatan untuk bekerja, untuk memberi, untuk masih bisa bersujud.
Dan percayalah—selama kita bersandar pada Allah, semua akan berakhir dengan baik-baik saja.

Di Antara Kening dan Sajadah

Di senja yang letih, aku berbincang dengan sunyi,
Tentang kerja, tentang cinta, tentang makna yang hilang perlahan.
Namun dalam sujud, semua kembali sederhana,
Hanya aku, dan Engkau, tanpa jarak, tanpa beban.

Dalam sempit aku belajar memberi,
Dalam pahit aku belajar syukur.
Sebab segala yang kutautkan pada-Mu,
Selalu pulang dalam keadaan baik-baik saja.

Mas Bojreng dalam diam

#Faith #Gratitude #Surrender #SpiritualJourney #PeaceWithin
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Thursday, November 6, 2025

PCOS dan Gaya Hidup Sehat. Jangan Cuma Ikut Tren, Nikmati Prosesnya.


Pernah dengar PCOS? Jadi gini, PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome itu kondisi yang lumayan sering dialami perempuan di usia subur. Biasanya karena hormon di tubuh lagi nggak seimbang. Tandanya bisa macem-macem — haid yang suka molor atau malah nggak datang-datang, jerawat yang bandel banget, rambut halus tumbuh di tempat yang aneh kayak dagu atau perut, sampai berat badan yang naik terus padahal makan rasanya biasa aja.

Nah, meskipun terdengar menakutkan, kabar baiknya: terapi utama PCOS bukan selalu obat. Justru fondasinya adalah gaya hidup sehat — alias lifestyle change. Dua kata kuncinya: makan dengan bijak dan rajin bergerak.

Mulai dari Piring Makanmu
Diet untuk PCOS bukan berarti harus hidup hanya dari salad dan dada ayam rebus. Intinya adalah menstabilkan kadar gula darah dan menekan resistensi insulin (yang sering jadi biang kerok PCOS makin parah).
Coba tips ini:
• Pilih karbo kompleks seperti nasi merah, oats, atau kentang rebus.
• Isi setengah piringmu dengan sayur warna-warni.
• Pilih protein sehat: tahu, tempe, telur, ikan, atau ayam tanpa kulit.
• Kurangi minuman manis dan makanan olahan.
Makan dengan sadar, bukan sekadar karena lapar mata. Ingat, PCOS bukan cuma soal hormon, tapi juga soal metabolisme tubuh yang perlu kamu jaga pelan-pelan tapi konsisten.

Olahraga itu Nggak Harus Berat, Asal Rutin dan Menyenangkan
Banyak yang salah kaprah, mengira olahraga untuk PCOS harus ekstrem — maraton, angkat beban berat, atau kelas HIIT yang bikin ngos-ngosan. Padahal, kuncinya bukan di intensitas, tapi di konsistensi.
Kamu boleh banget mulai dari tren — ikut FOMO sedikit tidak apa-apa! Misalnya:
• Lagi musim sepeda? Coba ikut gowes bareng teman.
• Teman kantor lagi semangat lari? Coba ikutan fun run 5K.
• Sekarang lagi heboh padel tennis? Coba saja, siapa tahu ketagihan!
Yang penting: temukan jenis olahraga yang kamu nikmati. Karena kalau sudah senang, kamu akan melakukannya bukan karena “terpaksa demi PCOS”, tapi karena tubuhmu merasa segar setelahnya.
Beberapa pilihan olahraga yang cocok untuk PCOS:
• Cardio ringan: jalan cepat, bersepeda, berenang.
• Latihan kekuatan: yoga, pilates, atau latihan beban ringan (bagus untuk menstabilkan hormon dan meningkatkan metabolisme).
• Gabungan keduanya: misalnya senam zumba, dance class, atau hiking di akhir pekan.
Tips: Jadwalkan olahraga seperti kamu menjadwalkan janji penting. Kalau perlu, jadikan “me time” — musik favorit di telinga, sepatu olahraga kesayangan, dan sedikit waktu tanpa distraksi.

Kenapa Olahraga Penting untuk PCOS?
Karena olahraga bukan cuma membakar kalori. Buat wanita dengan PCOS, manfaatnya jauh lebih dalam:
• Meningkatkan sensitivitas insulin (menurunkan risiko diabetes).
• Menyeimbangkan kadar hormon.
• Membantu ovulasi lebih teratur.
• Menstabilkan suasana hati dan menurunkan stres (yang sering memperburuk PCOS).
• Menurunkan berat badan — tapi lebih penting lagi, memperbaiki komposisi tubuh.
Jadi, walau timbangan nggak langsung berubah drastis, tubuhmu sebenarnya sedang memperbaiki dirinya dari dalam.

Kiat Agar Tetap Konsisten
• Jangan perfeksionis. Nggak apa-apa kalau seminggu cuma sempat olahraga 2 kali. Yang penting mulai dan lanjut.
• Cari teman seperjuangan. Olahraga bareng bisa bikin semangat dan saling mengingatkan.
• Catat progres kecil. Misal: “bulan ini sudah jalan kaki total 20 km.” Kecil tapi nyata.
• Hadiahkan dirimu. Setelah sebulan rutin, boleh beli baju olahraga baru atau sepatu yang lebih nyaman.
• Dengarkan tubuhmu. Kalau lelah, istirahat. Kalau semangat, tingkatkan. PCOS bukan lomba siapa paling cepat sembuh, tapi perjalanan panjang menuju tubuh yang lebih seimbang.

Jadi Nikmati Prosesnya

Mengubah gaya hidup untuk mengatasi PCOS memang butuh waktu. Kadang turun-naik semangat, kadang malas, kadang hasilnya belum terlihat. Tapi jangan lupa: setiap langkah kecil — dari memilih makan lebih sehat sampai bergerak 30 menit sehari — adalah bentuk kasih sayangmu pada tubuh sendiri.
Mulai boleh dari FOMO, tapi lanjutkan karena kamu benar-benar menikmati prosesnya. Karena ketika gaya hidup sehat sudah jadi bagian dari keseharian, PCOS bukan lagi momok — tapi bagian dari perjalananmu menuju versi terbaik diri sendiri. 

You, My Answer

I love you in silent ways, you are everything I am not. In your difference, I rest, that is why I love you. You complete the spaces in m...