Tuesday, February 24, 2026

Puasa Saat Hamil, Ikut Ramadan atau Istirahat Dulu?

Setiap bulan Ramadan tiba, banyak ibu hamil yang mulai bertanya-tanya, “Aku puasa nggak ya? Boleh gak ya?"

Di satu sisi ingin tetap menjalankan ibadah penuh, di sisi lain mikir ada si kecil di dalam perut yang juga harus dijaga.
Kabar baiknya: dalam Islam, ibu hamil itu dapat keringanan. Jadi tidak perlu merasa bersalah kalau memang tidak bisa berpuasa.

Jadi, Boleh Puasa atau Tidak?

Secara umum, puasa saat hamil itu boleh, tapi tidak wajib.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama menjelaskan bahwa apabila ada ibu hamil yang khawatir terhadap kondisi dirinya atau janinnya termasuk dalam makna keringanan ini.

Dalam hadits shahih juga disebutkan:
“Sesungguhnya Allah meringankan setengah shalat bagi musafir, dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil, dan wanita menyusui.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi – hasan shahih)
Artinya jelas: ibu hamil bukan dipaksa kuat-kuatan. Islam tidak ingin ibadah justru membahayakan.

Kapan Ibu Hamil Bisa Tetap Puasa?

Banyak ibu hamil tetap berpuasa dengan lancar. Biasanya jika:
• Kehamilan sehat dan stabil
• Tidak anemia berat
• Tekanan darah normal
• Tidak ada risiko prematur
• Gerakan bayi aktif seperti biasa
Kalau dokter menyatakan kondisi aman, dan ibu merasa kuat, puasa bisa dijalani dengan catatan tetap memantau kondisi tubuh.
Namun yang penting diingat: kuat hari ini belum tentu kuat besok. Fleksibel itu bukan lemah.

Kapan Sebaiknya Tidak Puasa?

Ada kondisi tertentu di mana puasa sebaiknya ditunda:
• Perdarahan
• Kontraksi sebelum waktunya
• Janin kecil atau pertumbuhan terhambat
• Preeklamsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
• Diabetes yang perlu insulin
• Gerakan bayi terasa berkurang
Kalau ada tanda seperti pusing berat, lemas sekali, mual berlebihan, atau bayi terasa lebih jarang bergerak — tidak perlu ragu untuk berbuka.
Tidak ada pahala dalam memaksakan diri sampai membahayakan.

Supaya Lebih Aman Kalau Memutuskan Puasa

Kalau memang kondisi memungkinkan, beberapa hal sederhana ini bisa membantu:

Sahur jangan asal kenyang.
Pilih karbohidrat kompleks (nasi merah, oat, roti gandum) ditambah protein (telur, ayam, tahu, tempe) supaya energi tahan lebih lama.
Minum cukup.

Targetkan 2–2,5 liter antara berbuka sampai sahur. Sedikit-sedikit tapi sering.

Jangan skip suplemen.
Zat besi dan vitamin tetap diminum sesuai anjuran dokter.
Pantau gerakan bayi.
Ibu biasanya paling peka. Kalau ada yang terasa berbeda, dengarkan insting itu.

Jangan Terjebak Rasa Bersalah

Kadang tekanan terbesar bukan dari tubuh, tapi dari perasaan. Takut dianggap kurang semangat ibadah. Takut dibandingkan dengan ibu hamil lain yang tetap puasa penuh.
Padahal setiap kehamilan itu unik.
Ada yang trimester pertama sudah muntah berat.
Ada yang trimester ketiga cepat sekali lelah.
Ada juga yang lancar tanpa keluhan.
Semua itu berbeda, dan Islam memahami perbedaan itu.
Syekh Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa wanita hamil yang khawatir terhadap dirinya atau janinnya dipersamakan dengan orang sakit — artinya boleh berbuka.
Jadi keputusan bukan soal kuat atau tidak kuat. Tapi soal aman atau tidak aman.

Kesimpulan yang Menenangkan

Puasa saat hamil itu boleh, tapi bukan kewajiban yang harus dipaksakan.
Kalau mampu dan aman, silakan.
Kalau tidak mampu atau berisiko, istirahatlah dengan tenang. Ada keringanan, ada solusi pengganti.
Ramadan bukan tentang memaksakan diri.
Ramadan tentang taat dengan bijak.
Dan menjaga kehidupan yang sedang Allah titipkan di dalam rahim — itu juga ibadah besar. 🤍

Catatan Mas Bojreng sambil praktek

#PuasaSaatHamil #IbuHamilSehat #RamadhanBerkah #TipsKehamilan #MomToBe
#catatanmasbojreng #masbojreng 

Friday, February 20, 2026

Di Hadapan Cahaya yang Tak Padam

Tidak benar tetap tidak benar. Titik. Jangan dipoles jadi “maklum lah”, jangan dibungkus jadi “semua juga begitu”, apalagi dinormalisasi cuma karena pelakunya banyak. Sejak kapan jumlah orang jadi standar kebenaran? Kalau satu sistem rusak lalu semua ikut arus, itu bukan pembelaan—itu cuma cara halus untuk kabur dari tanggung jawab. Hati nurani bukan fitur opsional yang bisa dimatikan saat keadaan tidak nyaman. Justru di momen seperti itu integritas diuji: saat benar terasa sepi, dan salah terasa ramai.

Berdirilah dengan idealisme yang bersih, meski mungkin terlihat sendirian. Jangan ikut membenarkan yang keliru hanya karena alasan “terpaksa” atau “ini sudah budaya”. Bisa jadi keadaan makin kacau, makin banyak yang kompromi. Tapi tetaplah memilih yang lurus. Karena pada akhirnya yang dipertanggungjawabkan bukan opini mayoritas, melainkan pilihan pribadi. Ingat kematian. Ingat firman Allah dalam Surah Yasin ayat 65—tentang hari ketika mulut terkunci dan tangan serta kaki yang bersaksi atas apa yang dulu dikerjakan. Seperti kata Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Jadi sebelum dunia ramai bertepuk tangan, pastikan hati tetap tenang karena memilih yang benar.

Di Hadapan Cahaya yang Tak Padam

Jangan sebut gelap sebagai fajar.
Salah tetaplah salah, walau disanjung ramai.
Angin zaman boleh berisik,
nurani tetap berbisik jernih.

Sistem boleh retak dan miring,
namun jiwa jangan ikut runtuh.
Berdirilah dengan api sunyi,
yang menyala tanpa tepuk tangan.

Ingat hari ketika suara dibungkam,
dan anggota tubuh menjadi saksi.
Jejak langkah tak bisa berdalih.
Kematian adalah gerbang kejujuran.

Pengingat diri Mas Bojreng di hari Jumat ini

#StandForTruth #IntegrityMatters #MoralCourage #ConscienceFirst #RememberDeath #poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng


Thursday, February 19, 2026

Aulia, di Pangkuan Senja



Aku menggendongmu, Aulia,

dalam sunyi yang tak bersuara.
Tubuh kecilmu dingin,
seperti fajar yang batal terbit.

Engkau belum sempat mengeja dunia,
belum menyusu pada hangat dada ibumu.
Namun aku telah mencintaimu,
sejak namamu bergetar di doa kami.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Kita milik-Nya, dan pulang kepada-Nya.
Aku melepasmu dengan tangan gemetar,
ke tanah yang lebih lembut dari dadaku.

Allaahummaghfir laha warhamha wa ‘aafiha wa’fu ‘anha.
Ampuni dan rahmati putriku.
Jadikan kuburnya taman cahaya,
bukan liang yang sunyi.

Aulia, engkau pengingatku.
Bahwa setiap tangan akan bersaksi,
seperti disebut dalam Surah Yasin ayat 65.
Maka aku bekerja, menjaga amanah,
dengan idealisme dan integritas yang tak boleh mati.


Mas Bojreng tiada kata


#GrievingFather #StillbornAngel #InnaLillahi #GoneTooSoon #EternalLove
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Wednesday, February 18, 2026

Silent Embrace


Born into a hush.
No cry touched the air.
Evening stood still in grief.
Only prayers filled the room.

A brief but meaningful light,
you rested softly in my arms.
Holding you in my arms meant everything to me.
I love you forever and always.

Mas Bojreng in silence

#BabyLoss #PregnancyLoss #Stillborn #InfantLoss #ForeverInOurHearts
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Tuesday, February 17, 2026

Nduk, Separuh Denyutku


Enam belas tahun lalu,

sebagian denyutku berhenti.
Kulihat layar itu sunyi,
jantung kecilmu tak lagi bernyanyi.

Aku harus tegak berdiri,
tak boleh retak di wajah ini.
Ibumu menyimpan laut di matanya,
kami saling kuatkan dalam diam.

Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji’un.

Allah lebih sayang padamu, nduk,
belum sempat kudengar tangismu.
Kau pulang sebelum kupeluk,
namun kau tinggal, jadi pengingat hidupku selalu.

Mas Bojreng dalam diam

#GrievingFather #SilentStrength #EternalLove #GoneTooSoon #FaithThroughLoss
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Friday, February 13, 2026

Jejak yang Menuju-Mu

“Mengerjakan sesuatu dengan senang hati” itu beda tipis tapi dalam banget dibanding “mengerjakan sesuatu supaya hatinya senang.” Yang pertama, hati sudah settle dulu—ada penerimaan, ada makna—baru tindakan jalan. Yang kedua, tindakan dipakai buat ngejar rasa enak di dalam diri. Secara psikologis, ini beda arah: yang satu lahir dari kelimpahan batin, yang lain sering jadi tambal sulam kekosongan. Kelihatannya sama-sama baik, tapi coba uji: kalau tidak ada yang lihat, tetap semangat? Kalau tidak dipuji, tetap konsisten? Di situ biasanya ketahuan, ini ekspresi hati yang stabil atau cuma cari validasi halus yang dibungkus kebaikan.

Dalam pandangan Islam, titik tekannya ada di niat. Amal yang sama bisa nilainya beda total tergantung orientasi batinnya. “Lillahi ta’ala” bukan sekadar slogan, tapi soal arah terdalam: melakukan sesuatu karena Allah memang layak ditaati, bukan supaya dipuji, bukan supaya merasa jadi orang baik. Ulama seperti Al-Ghazali mengingatkan bahwa campuran niat itu sering sangat halus; merasa sudah ikhlas justru bisa jadi jebakan ego. Ketenangan hati itu boleh dan wajar, tapi dalam Islam ia buah, bukan tujuan utama. Jadi pertanyaannya bukan cuma “niatnya sudah benar belum?”, tapi juga “kalau semua apresiasi hilang, apakah tetap jalan?” Di situlah kualitas “lillahi ta’ala” benar-benar teruji.

Jejak yang Menuju-Mu

Aku belajar menata niat di sunyi,
bukan agar dipuji langit dan bumi,
tapi agar langkah ini jernih kembali,
menuju-Mu tanpa hiasan diri.

Jika hati goyah oleh ingin dipandang,
ingatkan aku pada asal yang tenang,
bahwa setiap amal hanyalah pinjam,
dan Engkaulah tujuan paling terang.

Pengingat diri Mas Bojreng

#PureIntention #ForAllahAlone #HeartBeforeAction #SincereFaith #SpiritualDiscipline
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Saturday, February 7, 2026

Di Depan Cermin yang Jujur


Aku berdiri di depan cermin,

bukan untuk menilai wajah,
melainkan menanyai hati
yang sering bersembunyi dari terang.

Aku kira mereka yang frustrasi,
ternyata aku yang letih,
aku kira mereka tak benar,
ternyata langkahku yang pincang.

Saat bisik buruk sampai ke telinga,
aku menuduh iri dan salah,
namun sunyi membongkar rahasia:
akulah yang keliru membaca diri.

Aku bukan seindah sangka,
bukan seteguh pujian,
aku hanya tanah
yang lupa asal debunya.

Astagfirullahaladzim,
ampuni hamba-Mu, ya Allah,
tuntun tanganku memperbaiki diri,
agar esok lebih jujur dari hari ini.

Mas Bojreng dalam diam

#SelfReflection #InnerAwakening #HumilityJourney #SpiritualGrowth #SeekingForgiveness
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Puasa Saat Hamil, Ikut Ramadan atau Istirahat Dulu?

Setiap bulan Ramadan tiba, banyak ibu hamil yang mulai bertanya-tanya, “Aku puasa nggak ya? Boleh gak ya?" Di satu sisi ingin tetap me...