Jam Karet di Ruang Undangan
Membaca berita tentang Kimi Onoda yang berlari-lari hanya karena terlambat lima menit membuat saya agak terdiam. Bukan karena dramatisnya adegan seorang menteri yang tergopoh-gopoh, tapi karena standar yang dipakai. Di sana, lima menit saja sudah cukup bikin pejabat merasa perlu minta maaf dengan serius. Lima menit. Sementara di sini, lima menit itu bahkan belum cukup waktu untuk panitia bilang, “Sebentar ya, kita tunggu dulu bapak pejabatnya.” Rasanya seperti hidup di dua planet yang berbeda soal menghargai waktu. Nah ini link beritanya https://www.google.com/amp/s/www.cnbcindonesia.com/news/20260310094340-7-717571/saat-menteri-jepang-minta-maaf-lari-lari-karena-telat-5-menit/amp Saya jadi ingat pengalaman menghadiri berbagai acara—kadang sebagai peserta, kadang sebagai narasumber. Jadwal mulai jam sembilan, tapi jam sembilan lewat tiga puluh masih ada kalimat sakral: “Kita tunggu sedikit lagi.” Sedikitnya bisa satu jam. Pernah juga satu setengah sampai dua jam. Lalu sang pejabat da...









