Friday, February 13, 2026

Jejak yang Menuju-Mu

“Mengerjakan sesuatu dengan senang hati” itu beda tipis tapi dalam banget dibanding “mengerjakan sesuatu supaya hatinya senang.” Yang pertama, hati sudah settle dulu—ada penerimaan, ada makna—baru tindakan jalan. Yang kedua, tindakan dipakai buat ngejar rasa enak di dalam diri. Secara psikologis, ini beda arah: yang satu lahir dari kelimpahan batin, yang lain sering jadi tambal sulam kekosongan. Kelihatannya sama-sama baik, tapi coba uji: kalau tidak ada yang lihat, tetap semangat? Kalau tidak dipuji, tetap konsisten? Di situ biasanya ketahuan, ini ekspresi hati yang stabil atau cuma cari validasi halus yang dibungkus kebaikan.

Dalam pandangan Islam, titik tekannya ada di niat. Amal yang sama bisa nilainya beda total tergantung orientasi batinnya. “Lillahi ta’ala” bukan sekadar slogan, tapi soal arah terdalam: melakukan sesuatu karena Allah memang layak ditaati, bukan supaya dipuji, bukan supaya merasa jadi orang baik. Ulama seperti Al-Ghazali mengingatkan bahwa campuran niat itu sering sangat halus; merasa sudah ikhlas justru bisa jadi jebakan ego. Ketenangan hati itu boleh dan wajar, tapi dalam Islam ia buah, bukan tujuan utama. Jadi pertanyaannya bukan cuma “niatnya sudah benar belum?”, tapi juga “kalau semua apresiasi hilang, apakah tetap jalan?” Di situlah kualitas “lillahi ta’ala” benar-benar teruji.

Jejak yang Menuju-Mu

Aku belajar menata niat di sunyi,
bukan agar dipuji langit dan bumi,
tapi agar langkah ini jernih kembali,
menuju-Mu tanpa hiasan diri.

Jika hati goyah oleh ingin dipandang,
ingatkan aku pada asal yang tenang,
bahwa setiap amal hanyalah pinjam,
dan Engkaulah tujuan paling terang.

Pengingat diri Mas Bojreng

#PureIntention #ForAllahAlone #HeartBeforeAction #SincereFaith #SpiritualDiscipline
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Saturday, February 7, 2026

Di Depan Cermin yang Jujur


Aku berdiri di depan cermin,

bukan untuk menilai wajah,
melainkan menanyai hati
yang sering bersembunyi dari terang.

Aku kira mereka yang frustrasi,
ternyata aku yang letih,
aku kira mereka tak benar,
ternyata langkahku yang pincang.

Saat bisik buruk sampai ke telinga,
aku menuduh iri dan salah,
namun sunyi membongkar rahasia:
akulah yang keliru membaca diri.

Aku bukan seindah sangka,
bukan seteguh pujian,
aku hanya tanah
yang lupa asal debunya.

Astagfirullahaladzim,
ampuni hamba-Mu, ya Allah,
tuntun tanganku memperbaiki diri,
agar esok lebih jujur dari hari ini.

Mas Bojreng dalam diam

#SelfReflection #InnerAwakening #HumilityJourney #SpiritualGrowth #SeekingForgiveness
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Monday, February 2, 2026

You, My Answer


I love you in silent ways,

you are everything I am not.
In your difference, I rest,
that is why I love you.

You complete the spaces in me,
the quiet rooms I couldn’t fill.
Your presence softens my edges,
you made me whole.

I loved you the moment I saw it,
love living in your eyes.
My beloved wife, my home,
my forever begins with you.

Mas Bojreng said I lap yu tu Mbak Bojreng

#LovePoetry #SoulmateLove #RomanticWords #EternalLove #WrittenFromTheHeart
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Wednesday, January 28, 2026

Di Balik Pintu

Di Balik Pintu

Lima belas tahun lalu aku menunggu,
di sisi luar pintu operasi.
Bukan lagi tangan yang bekerja,
hanya hati yang berdoa.

Aku suami, bukan dokter.
Ilmu berhenti, iman maju.
Suara langkah dan bisik medis,
mengalir dari celah pintu.

Aku pasrah pada-Mu, ya Allah.
Menanti tangis pertamamu.
Barokallahu laka fil mawhuubi laka,
doa lahir bersama napasmu.

Barokallahu laka fil mawhuubi laka wa syakarta al waahib, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu

Catatan Mas Bojreng 15 tahun yang lalu

#LifeMoments #FaithJourney #Fatherhood #GratefulHeart #TimelessStories
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Sunday, January 25, 2026

Rak yang Tak Pernah Penuh

Sejak kecil saya selalu punya mimpi agak “nggak masuk akal” versi anak-anak: satu ruangan penuh buku, dari tembok ke tembok, dari lantai sampai langit-langit. Rak kayu, bau kertas, dan sunyi yang ramah. Mimpi itu tiba-tiba muncul lagi waktu nonton drama Korea Can This Love Be Translated?, tepatnya saat kamera menyorot perpustakaan di rumah kakek Joo Ho-jin. Di ceritanya, kakek dari pihak ibu itu seorang cendekiawan, kolektor buku kelas berat—bahkan di episode terakhir disebut punya satu buku cetakan pertama Charles Dickens, meski judulnya dirahasiakan. Entah kenapa, adegan itu rasanya hangat dan bikin iri dalam cara yang menyenangkan: betapa asyiknya hidup dikelilingi buku, bukan cuma dibaca, tapi disimpan sebagai jejak waktu.

Sampai sekarang kebiasaan itu masih kebawa. Kalau ketemu buku yang menarik, refleksnya beli dulu—soal dibaca kapan, itu urusan nanti. Soalnya saya sering ngalamin, buku yang dulu sempat saya beli, sekarang malah sudah nggak ada lagi di pasaran. Hilang begitu saja. Dan lucunya, buku-buku ini bukan cuma ngumpulin debu atau nostalgia; hidup saya juga pernah belok gara-gara buku. Saya ketemu cinta saya pun bermula dari buku yang saya pinjam—baik itu catatan sekolah atau novel, haha. Yang jelas, dari rak buku kecil itu, ceritanya jadi panjang.

Rak yang Tak Pernah Penuh

Sejak kecil aku bermimpi sunyi,
dinding penuh buku sampai langit.
Kayu, kertas, dan waktu,
tersimpan rapi tanpa suara.

Aku membeli sebelum hilang,
membaca nanti, entah kapan.
Dari buku aku bertemu cinta,
rak kecil, cerita yang panjang.

Catatan Mas Bojreng

#BookLovers #ReadingLife #DreamLibrary #KDramaVibes #StoryOfLife
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Friday, January 23, 2026

Langkah yang Dijaga


Pak Yunus melangkah pelan,

payung kecil menantang hujan.
Wajahnya tenang, senyumnya doa,
masjid selalu menemukan beliau.

Suaranya memanggil langit,
aku berdiri dengan malu.
Ya Allah,
aku sering kalah oleh alasan.

Jangan Kau cabut nikmat ini,
nikmat bersujud dan bercakap.
Dalam diam paling jujur,
aku dekat tanpa jarak.

Jika kelak kakiku gemetar,
jangan hukum aku dengan kehilangan.
Biarkan langkah ini lurus,
lillahi ta’ala, dan tiada yang lain.

Pengingat diri Mas Bojreng

#Faith #InnerPeace #LifeReflections #Gratitude #SpiritualJourney
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Friday, January 16, 2026

Di Ambang Sujud

Di Ambang Sujud

Ya Allah,
jangan kau cabut nikmat sujudku,
biarkan dahiku
tetap pulang pada-Mu.

Ampunan-Mu kupinta
dengan napas yang gemetar,
belas kasih-Mu
adalah satu-satunya harap.

Jangan jauhkan aku
dari pintu masjid-Mu,
sebab di sanalah
hatiku kembali utuh.

Jika dunia mengusirku,
izinkan sajadah-Mu memelukku,
agar aku tetap hidup
di hadapan-Mu.

Mas Bojreng
 27 Rajab 1447 H.

#SpiritualJourney #FaithOverFear #InnerPeace #PrayerLife #MindfulLiving
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Jejak yang Menuju-Mu

“Mengerjakan sesuatu dengan senang hati” itu beda tipis tapi dalam banget dibanding “mengerjakan sesuatu supaya hatinya senang.” Yang pertam...