Friday, February 20, 2026

Di Hadapan Cahaya yang Tak Padam

Tidak benar tetap tidak benar. Titik. Jangan dipoles jadi “maklum lah”, jangan dibungkus jadi “semua juga begitu”, apalagi dinormalisasi cuma karena pelakunya banyak. Sejak kapan jumlah orang jadi standar kebenaran? Kalau satu sistem rusak lalu semua ikut arus, itu bukan pembelaan—itu cuma cara halus untuk kabur dari tanggung jawab. Hati nurani bukan fitur opsional yang bisa dimatikan saat keadaan tidak nyaman. Justru di momen seperti itu integritas diuji: saat benar terasa sepi, dan salah terasa ramai.

Berdirilah dengan idealisme yang bersih, meski mungkin terlihat sendirian. Jangan ikut membenarkan yang keliru hanya karena alasan “terpaksa” atau “ini sudah budaya”. Bisa jadi keadaan makin kacau, makin banyak yang kompromi. Tapi tetaplah memilih yang lurus. Karena pada akhirnya yang dipertanggungjawabkan bukan opini mayoritas, melainkan pilihan pribadi. Ingat kematian. Ingat firman Allah dalam Surah Yasin ayat 65—tentang hari ketika mulut terkunci dan tangan serta kaki yang bersaksi atas apa yang dulu dikerjakan. Seperti kata Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Jadi sebelum dunia ramai bertepuk tangan, pastikan hati tetap tenang karena memilih yang benar.

Di Hadapan Cahaya yang Tak Padam

Jangan sebut gelap sebagai fajar.
Salah tetaplah salah, walau disanjung ramai.
Angin zaman boleh berisik,
nurani tetap berbisik jernih.

Sistem boleh retak dan miring,
namun jiwa jangan ikut runtuh.
Berdirilah dengan api sunyi,
yang menyala tanpa tepuk tangan.

Ingat hari ketika suara dibungkam,
dan anggota tubuh menjadi saksi.
Jejak langkah tak bisa berdalih.
Kematian adalah gerbang kejujuran.

Pengingat diri Mas Bojreng di hari Jumat ini

#StandForTruth #IntegrityMatters #MoralCourage #ConscienceFirst #RememberDeath #poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng


No comments:

Post a Comment

Di Hadapan Cahaya yang Tak Padam

Tidak benar tetap tidak benar. Titik. Jangan dipoles jadi “maklum lah”, jangan dibungkus jadi “semua juga begitu”, apalagi dinormalisasi cum...