Stadion di Atas Asap


Piala Dunia itu biasanya identik dengan euforia, jersey baru, dan begadang nonton bareng. Tapi menjelang Piala Dunia FIFA 2026 yang bakal digelar di Amerika Serikat (bareng Kanada dan Meksiko), suasananya agak beda. Dunia lagi panas. Serangan militer yang melibatkan AS dan Israel ke Iran bikin banyak orang bertanya: ini turnamen bakal tetap aman? Atau justru bisa kena efek domino politik?


Kalau mundur sedikit ke 2022, saat Rusia menginvasi Ukraina, FIFA langsung ambil sikap tegas. Rusia dicoret dari kompetisi internasional, termasuk jalur ke Piala Dunia Qatar. Cepat, jelas, tanpa banyak basa-basi. Waktu itu banyak yang bilang: “Oke, berarti FIFA berani juga kalau urusan agresi militer.” Tapi sekarang ceritanya terasa lebih rumit.

Saat muncul desakan agar Israel dikeluarkan dari kompetisi karena konflik di Gaza, FIFA tidak mengambil langkah sekeras itu. Presiden FIFA, Gianni Infantino, berkali-kali menegaskan bahwa sepak bola harus netral dan bukan alat politik. Di atas kertas terdengar ideal. Tapi publik tidak lupa bahwa dulu FIFA juga bilang hal serupa sebelum akhirnya tetap menghukum Rusia. Di sinilah banyak yang mulai merasa: apakah standar “netral” itu benar-benar konsisten?

Menariknya lagi, tuan rumah 2026 ini bukan raksasa sepak bola dunia. Timnas pria AS memang berkembang, tapi bukan langganan semifinal atau final. Prestasi terbaik mereka bahkan terjadi di 1930, dan setelah itu lebih sering mentok di 16 besar. Jadi secara olahraga, AS bukan Brasil, bukan Jerman, bukan Argentina. Namun sebagai pasar dan kekuatan ekonomi, pengaruhnya besar sekali. Di titik ini, orang jadi wajar bertanya: apakah keputusan FIFA murni soal prinsip, atau juga soal siapa yang punya power?

Contoh di olahraga lain juga tidak jauh berbeda. International Olympic Committee pernah menjatuhkan sanksi berat pada Rusia, tapi dalam konflik lain sering terlihat lebih hati-hati. Polanya mirip: keputusan terasa tegas di satu kasus, lebih lunak di kasus lain. Ini yang bikin publik makin kritis. Apalagi Iran sendiri adalah salah satu peserta 2026. Bayangkan atmosfernya: negara yang sedang bersitegang secara militer, lalu bertemu di panggung olahraga terbesar dunia.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: kalau agresi dianggap salah, apakah itu berlaku untuk semua? Atau hanya untuk sebagian? Kalau FIFA benar-benar ingin memisahkan sepak bola dari politik, maka standar itu harus rata. Kalau tidak, wajar bila muncul suara agar anggota FIFA yang tidak setuju memilih bersikap lebih keras — bahkan sampai memikirkan boikot Piala Dunia 2026. Bukan karena benci bola, tapi karena ingin aturan yang terasa adil, bukan selektif.

Stadion di Atas Asap

Lampu stadion menyala terang,
langit di luar masih berasap.
Wasit meniup peluit panjang,
dunia pura-pura tetap gelap.

Mereka bilang bola itu netral,
tak kenal darah, tak kenal tanah.
Tapi kartu merah turun cepat,
kalau pelakunya tak cukup megah.

Di tribun VIP tepuk tangan rapi,
kontrak dan sponsor tetap aman.
Di luar pagar, berita perang,
hanya jadi jeda iklan.

Skor akhir ditulis sejarah,
siapa salah tergantung peta.
Di atas rumput semua setara,
kecuali yang tak punya kuasa.

Mas Bojreng di akhir pekan ini, hanya menulis pemikiran saya.

#WorldCup2026 #FootballAndPolitics #FIFADoubleStandards #GlobalGameGlobalConflict #BoycottDebate
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Comments

Popular Posts