“Mengerjakan sesuatu dengan senang hati” itu beda tipis tapi dalam banget dibanding “mengerjakan sesuatu supaya hatinya senang.” Yang pertama, hati sudah settle dulu—ada penerimaan, ada makna—baru tindakan jalan. Yang kedua, tindakan dipakai buat ngejar rasa enak di dalam diri. Secara psikologis, ini beda arah: yang satu lahir dari kelimpahan batin, yang lain sering jadi tambal sulam kekosongan. Kelihatannya sama-sama baik, tapi coba uji: kalau tidak ada yang lihat, tetap semangat? Kalau tidak dipuji, tetap konsisten? Di situ biasanya ketahuan, ini ekspresi hati yang stabil atau cuma cari validasi halus yang dibungkus kebaikan.Dalam pandangan Islam, titik tekannya ada di niat. Amal yang sama bisa nilainya beda total tergantung orientasi batinnya. “Lillahi ta’ala” bukan sekadar slogan, tapi soal arah terdalam: melakukan sesuatu karena Allah memang layak ditaati, bukan supaya dipuji, bukan supaya merasa jadi orang baik. Ulama seperti Al-Ghazali mengingatkan bahwa campuran niat itu sering sangat halus; merasa sudah ikhlas justru bisa jadi jebakan ego. Ketenangan hati itu boleh dan wajar, tapi dalam Islam ia buah, bukan tujuan utama. Jadi pertanyaannya bukan cuma “niatnya sudah benar belum?”, tapi juga “kalau semua apresiasi hilang, apakah tetap jalan?” Di situlah kualitas “lillahi ta’ala” benar-benar teruji.
Jejak yang Menuju-Mu
Aku belajar menata niat di sunyi,
bukan agar dipuji langit dan bumi,
tapi agar langkah ini jernih kembali,
menuju-Mu tanpa hiasan diri.
Jika hati goyah oleh ingin dipandang,
ingatkan aku pada asal yang tenang,
bahwa setiap amal hanyalah pinjam,
dan Engkaulah tujuan paling terang.
Pengingat diri Mas Bojreng
#PureIntention #ForAllahAlone #HeartBeforeAction #SincereFaith #SpiritualDiscipline
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

No comments:
Post a Comment