Monday, December 29, 2025

Empati, sering dilupakan

Kadang kita terlalu sibuk sama hidup sendiri sampai lupa, orang di sebelah kita lagi berjuang mati-matian. Empati itu sebenarnya sederhana: berhenti sebentar, dengar tanpa motong, dan nggak merasa paling tahu. Nggak semua orang butuh solusi, banyak yang cuma pengin dimengerti. Di dunia yang makin bising dan penuh tuntutan, kehadiran seseorang yang benar-benar mau peduli itu rasanya seperti napas segar — kecil, tapi menyelamatkan.

Dalam pandangan Islam, empati itu dekat banget dengan iman. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa iman itu kelihatan bukan dari seberapa keras kita bicara, tapi dari seberapa dalam kita peduli pada orang lain, sampai kita bisa ngerasa apa yang mereka rasakan. Jadi empati bukan tanda lemah, justru bukti kalau hati kita masih hidup, masih hangat, dan belum mati oleh ego dan rasa paling benar.

Ini seperti bilang: empati itu bukan pencitraan, tapi keberanian untuk merasakan luka orang lain, lalu hadir dengan tulus. Pelan-pelan, lewat empati, kita bukan cuma meringankan beban orang lain — tapi juga membersihkan hati kita sendiri.

Catatan Mas Bojreng malam ini


#fyp #humaninterest #humaninterestphotography #humaninterestindonesia #old #oldwomen #woman #women #womanportrait #womanportraits #womenportrait #portrait #portraits #portraitoftheday #portraitphotography #portraitmood #portraitphotographer #portraiture #blackandwhite #blackandwhiteportrait #blackandwhitephoto #bwreborn #blackandwhitephotography #blackandwhitepicturechallenge #bwphotography #kfsemarang #catatanmasbojreng #masbojreng

Sunday, December 28, 2025

Di Saat Terburukku, Kau Tetap Tinggal

Liburrrrrr.....

Naik kereta api..
Tut tut tuttttt...
Siapa hendak turut...
Yang penting tumbler jangan ketinggalan ya sayang...

Di Saat Terburukku, Kau Tetap Tinggal

Aku telah menemukan seorang gadis
yang melengkapi diriku.
Di antara riuh dunia,
kaulah rumah yang paling sunyi dan hangat.

Saat aku rapuh,
saat aku bukan siapa-siapa,
kau tetap memilihku—
seperti cinta di At My Worst.

Aku tak selalu kuat,
tak selalu indah.
Tapi di matamu,
aku tetap layak dicinta.

Jika hidup menjatuhkanku,
kau yang memeluk.
Jika aku hilang arah,
kaulah alasanku pulang.

Mas Bojreng kepada Mbak Bojreng

#LoveStory #TrueLove #RomanticPoem #CoupleGoals #AtMyWorst
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Friday, December 26, 2025

Aib itu kalau dipamerkan… ya itu norak, sadar?


Aib itu kalau dipamerkan… ya itu norak, sadar?

Aib itu luka, bukan medali,
tak pantas dipajang di etalase diri.
Ia seharusnya ditutup rapi,
bukan diumbar sambil tertawa geli.

Celana dalam, tempatnya di dalam,
bukan di panggung, apalagi di alam.
Eh ada yang bangga luar biasa,
dipakai di kepala—halo Shin Chan, apa kabar?

Ternyata ini tak kenal usia,
tak peduli gelar atau kasta manusia.
Dari bocah sampai yang katanya dewasa,
sama-sama bisa lupa rasa malu seketika.

Saat malu pergi tanpa pamit,
adab ikut hilang, etika pun pamit.
Dengan dalih apa pun yang dipakai,
aib tetap aib—bukan untuk dipamerkan ramai-ramai.

Mas Bojreng ketika .. ah entahlah dan santai saja, jangan baper dulu—
puisi ini cuma tentang Shinchan, bukan tentang kamu

#KeepYourDignity #DontOvershare #RespectYourself #KnowYourBoundaries #SatireWithMeaning
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Tuesday, December 23, 2025

Ikhlas Yang Tak Bersuara

Ikhlas Yang Tak Bersuara

Ikhlas bukan lidah yang lantang.
Ia bukan kata yang diulang.
Ia tumbuh dalam diam.
Tak perlu diperkenalkan.

Ikhlas berjalan bersama tawakal.
Melangkah tanpa menuntut.
Hati bersandar penuh.
Pada yang Maha Mengatur.

Aku berserah pada keputusan-Mu.
Bukan karena lemah.
Tapi karena percaya.
Engkau lebih tahu arah.

Ujian datang silih berganti.
Seperti ombak ke pantai.
Kadang menenggelamkan.
Kadang menguatkan kaki.

Ingatlah, di balik sempit.
Selalu ada lapang menunggu.
Di balik gelap yang menggigit.
Cahaya sedang menuju.

Tak semua ingin jadi milik.
Bukan semua doa jadi nyata.
Jika Engkau menahan sesuatu.
Pasti ada kasih di sana.

Jika memang itu rezekiku.
Ia tak akan tersesat.
Ia akan tiba tepat waktu.
Walau aku berhenti berharap.

Maka kusederhanakan keinginan.
Kukenali batas diri.
Alhamdulillah di tiap tarikan.
Senyum, meski hati sendiri.

Saat dunia tak mengerti.
Aku bersujud lebih lama.
Bercakap lirih dengan-Mu.
Karena Engkaulah sebaik-baik pendengar.

Mas Bojreng tidak memaksakan diri

#SincereHeart #TrustInAllah #DivinePlan #GratefulSoul #LetGoAndBelieve

#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng


Sunday, December 21, 2025

Ketika Ilmu Kehilangan Cahaya

Perjalanan kemarin menemukan hal yang menarik, ketika saya menjadi "unknown". Ketika saya memutuskan untuk diam ketika saya tahu.

Kadang miris ya, lihat orang yang ilmunya tinggi, gelarnya panjang, tapi dipakai bukan buat mencerahkan—malah buat muter fakta, ngelabui, atau bikin orang lain keliatan bodoh. Dalihnya bisa macam-macam: profesionalisme, strategi, kebutuhan hidup. Padahal kalau ilmu sudah dipisahkan dari nurani, yang jalan bukan lagi idealisme, tapi arah materi. Sayang banget sebenarnya, karena ilmu itu amanah. Begitu dipakai buat ngerugiin orang lain, pelan-pelan integritasnya aus, meski dari luar tampak rapi dan meyakinkan.

Surah Yasin ayat 65 jadi pengingat yang agak “nggak enak tapi perlu”: suatu hari mulut bisa terkunci, tangan yang bicara, kaki yang bersaksi tentang apa yang pernah kita lakukan. Artinya, semua kepintaran buat nutupin kebohongan hari ini, nanti nggak ada gunanya. Yang tersisa cuma jejak perbuatan. Jadi mungkin sebelum pakai ilmu buat keuntungan sesaat, ada baiknya berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri—ini masih sejalan sama nurani, atau cuma bikin hati makin jauh? Karena pada akhirnya, bukan seberapa pintar kita membela diri, tapi seberapa jujur kita menjalani hidup.

Ketika Ilmu Kehilangan Cahaya

Ilmu lahir dari cahaya,
tapi bisa redup oleh niat.
Lidah pandai merangkai kata,
hati pelan-pelan tersesat.

Kelak mulut memilih diam,
tangan bicara tanpa suara.
Jejak langkah tak bisa disangkal,
nurani menjadi satu-satunya saksi.

Mas Bojreng hanya diam

#IntegrityMatters #KnowledgeWithConscience #SilentWitness #MoralReflection #TruthOverGain
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Monday, December 15, 2025

Selama Masih Bisa Traktir, Kita Teman

Di sebuah kerumunan, selalu ada satu orang yang kelihatan paling “jadi”. Bajunya mahal, HP-nya kinclong, dompetnya tebal. Orang-orang di sekitarnya tertawa paling keras, seolah setiap candaan dia itu lucu banget. Tapi kalau diperhatiin lebih dekat, sering kali ada jarak yang aneh: yang di tengah itu justru memandang rendah, atau bahkan tidak benar-benar menganggap orang-orang yang mengelilinginya. Mereka ada bukan sebagai manusia utuh, tapi sekadar pelengkap—selama bisa menemani, mengiyakan, dan menguntungkan. Selama ada uang, selama bisa traktir, selama masih “berguna”, lingkaran itu tetap utuh. Begitu semua itu hilang, biasanya yang tersisa cuma sunyi.


Di titik ini, kalimat ini terasa jujur sekaligus getir: “Seandainya engkau tahu betapa cepatnya orang melupakanmu setelah kematianmu maka engkau tidak akan sudi untuk mencari keridhoan seorang pun selain Allah.” Popularitas ternyata rapuh, dan ingatan manusia jauh lebih pendek dari yang kita kira.

Menariknya, Al-Qur’an meletakkan arah hidup ini dengan sangat tenang, tanpa nada menggurui: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162). Ayat ini seperti penanda arah di tengah hiruk-pikuk, mengingatkan bahwa hidup bukan soal berdiri paling tinggi di antara manusia, tapi tentang untuk siapa semua ini dijalani.

Rasulullah ﷺ juga pernah mengingatkan bahwa yang diperhitungkan bukan rupa atau harta, tapi hati dan amal (HR. Muslim). Mungkin hidup memang bukan soal seberapa ramai kita dikelilingi orang, tapi soal ke mana kita melangkah ketika keramaian itu bubar. Dan saat semuanya sunyi, pertanyaannya tinggal satu: selama ini, kita sebenarnya sedang mencari ridha siapa?

Dari Pinggir Keramaian

Ku melihat satu berdiri paling depan,
kilau harta memantul di wajahnya.
Yang lain tertawa terlalu keras,
bukan karena lucu, tapi perlu.

Ia juga melihat jarak yang dingin,
tatapan yang tak pernah sejajar.
Saat riuh itu padam perlahan,
tersisa sunyi—dan nama yang cepat hilang.

Mas Bojreng hanya bisa ber Istighfar

#TemporaryFame #SeekingApproval #HollowFriendships #EgoAndIllusion #OnlyGodRemains
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Friday, December 12, 2025

Di Kamar yang Tenang

Kadang, selain masjid yang jadi tempat paling adem buat hati, ada satu ruang kecil yang vibe-nya nggak pernah gagal bikin tenang: kamar bayi. Entah itu lihat bayi yang tidur pulas dengan napas naik-turun kayak ritme lagu slow, atau yang lagi nangis heboh tapi polos banget—semuanya terasa damai. Di ruangan itu, nggak ada drama hidup: nggak ada kemunafikan, iri hati, sirik, manipulasi, playing the victim, merasa paling benar, paling hebat, apalagi korupsi dan kelicikan. Yang ada cuma kejujuran yang belum ternodai, kepolosan yang bikin kita sadar betapa ruwetnya dunia orang dewasa. Rasanya hati kayak di-reset, balik ke mode paling sederhana: tenang.

Semoga Allah selalu ngejauhkan kita dari sifat-sifat buruk yang cuma bikin hidup makin berat dan penuh drama. Dalam Islam, kita udah diajarin buat balik lagi ke hati yang bersih, hati yang jernih tanpa iri, tanpa sombong, tanpa munafik. Dan Rasulullah SAW ngingetin kita dengan hadits yang tetap harus kita jaga keasliannya:
“Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Intinya, kalau hati beres—hidup pun ikut rapi. Kalau hati kacau—ya semuanya ikut berantakan. Semoga hati kita selalu dijaga Allah biar tetap bersih dan ringan.

Dan Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa pada hari akhir nanti, yang benar-benar menyelamatkan adalah hati yang bersih: “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89). Semoga kita semua diberi kekuatan buat jaga hati tetap bening, biar hidup lebih ringan dan langkah makin dekat sama Allah SWT.

Di Kamar yang Tenang

Di kamar sunyi tempat bayi terlelap,
hati ikut rebah tanpa beban.
Dunia berhenti dari hiruk dan topengnya,
damai turun seperti bisikan Tuhan.

Tak ada iri, tak ada dusta yang singgah,
hanya polos yang menenangkan dada.
Di ruang kecil itu aku belajar,
bahwa hati bersih adalah jalan pulang pada-Nya.

Mas Bojreng menyingkir dalam diam

#PeaceWithin #PureHeart #SilentRoom #InnerCalm #BackToAllah
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Tuesday, December 9, 2025

Hujan adalah rahmat

Si nenek berdiri di depan pintu rumah kayu itu sambil menggenggam tangannya. Hujan turun deras, bikin udara dingin menusuk. Lampu minyak di samping pintu menyala redup, seperti teman setia saat senja. Si kakek sudah memakai sarung dan peci, memegang payung kuning. “Hati-hati ya, hujannya deras,” bisik nenek. Kakek tersenyum, matanya teduh tapi mantap. Dari kejauhan, adzan maghrib memanggil. “Kalau Allah udah panggil, masa kita bilang hujan?” katanya pelan. “Kalau hujan selalu dijadiin alasan, kapan kita maju? Hujan adalah rahmat dari Allah SWT” Ia melangkah pelan ke jalan kampung yang becek. Suara air memantul dari payung, sementara nenek memandang dari teras, ada doa yang tidak terucap, tapi terasa:

 "Allahumma shoyyiban nafi'an."
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat."
Semoga pulang dengan selamat, semoga ibadah diterima.

Islam memandang langkah kecil seperti itu bukan hal sepele. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersungguh-sungguhlah dalam apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan jangan lemah.” Dan yang paling ngena buat kakek: QS. Al-Ankabut: 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” Artinya, kadang kita cuma perlu satu keputusan sederhana: jalan. Meski basah, meski dingin. Buat kakek, hujan cuma air. Yang lebih berat itu: malas, ragu, atau cari alasan. Pesan buat anak dan cucunya selalu sama, sambil ketawa kecil, “Baju yang basah bisa kering… tapi kesempatan kebaikan yang lewat belum tentu balik lagi. Jadi jangan takut sedikit basah, Nak.”

Hujan adalah rahmat

Di bawah payung kuning ia berjalan,
basah tak jadi alasan.
Adzan memanggil dari kejauhan,
hatinya pulang sebelum langkah tiba.

Hujan turun seperti doa panjang,
dingin jadi pelukan rahmat.
Ia pergi tanpa ragu, tanpa keluh,
sebab cinta tak pernah menunggu cuaca.

Pengingat diri Mas Bojreng

#RainAndFaith #WalkToPrayer #LoveInSilence #NoExcuses #HeartToAllah
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

Saturday, December 6, 2025

Di Balik Diam


Diam itu bukan kosong,

ada badai yang kupendam,
kata-kata tak lagi layak,
untuk hati yang tak jujur.

Aku memilih sunyi,
karena hormat sudah hilang,
percayaku sudah mati,
seiring sorot matamu yang palsu.

Engkau pandai bicara,
tapi mata tak bisa berdusta,
ada sesuatu yang kau sembunyikan,
namun langit selalu melihat.

Tidak takutkah kau,
pada hari semua dibuka,
tangan bersuara, kaki bersaksi,
dan mulutmu terkunci tak berkata.

Hari ini aibmu tertutup,
esok mungkin terbuka,
Allah tak pernah lalai,
di balik diam ada peringatan.

Saat Mas Bojreng diam dan menyingkir
06 12 2025

#silenttruth #eyesdontlie #fearAllah #hiddenwrongs #dayofjudgement
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Friday, December 5, 2025

Kota yang Tak Pernah Tidur

 

Di Gotham, lampu jalan berbisik serak,

Pejabat tersenyum manis, tangannya penuh lumpur.
Mereka punya jas, punya jabatan,
Tapi tikus tetap tikus, walau pakai parfum mahal.

Di sudut gang, boneka bergoyang tanpa tali,
Ada yang menarik dari jauh, dari ruang rapat sunyi.
Semua tertawa, semua bertepuk tangan,
Boneka berwajah manusia tak sadar dirinya kosong.

Preman berkeliaran, siang terang atau malam hitam,
Ada yang minta uang, ada yang minta hormat.
Ada yang pakai senjata, ada yang pakai mikrofon,
Keduanya sama: mengancam tanpa rasa malu.

Batman berdiri di atas gedung tua,
Jubah diterpa angin, mata menatap ke bawah.
Dalam lelahnya yang tak pernah dibagi,
Ia masih percaya: kota ini harus dilawan, bukan ditinggalkan.

Kadang ia bertanya dalam hati gelap,
Mengapa kejahatan tumbuh lebih cepat dari fajar?
Namun ia tetap turun, malam demi malam,
Karena kalau bukan dia, siapa lagi yang berani melawan?

Catatan Batman Gembul di Kota Gotham


#DarkGotham #SilentHero #ShadowVsCrime #CityOfNight #NeverGiveUp
#batman #batmangembul
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Wednesday, December 3, 2025

It's not about how hard you hit. It's about how hard you can get hit and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward.

Kadang hidup itu rasanya kayak dipojokin di sudut ring tinju—dipukul kanan kiri, sampai nggak ada ruang buat napas, apalagi buat berdiri. Tapi justru di titik serendah itu, tawakal itu kerasa paling nyata. Bukan pas semua lagi lancar, tapi pas kita jatuh ke lantai dunia dan cuma bisa bilang dalam hati, “Ya Allah… aku pasrah, tapi aku masih mau coba lagi.” Kayak kata Thomas Wayne ke Bruce, “Why do we fall? So we can learn to pick ourselves up.” Dan Rocky Balboa juga nyelipin pesan legendaris itu: “It’s not about how hard you hit, but how hard you can get hit and keep moving forward.” Hidup bakal terus ngetes mental, tapi Allah nggak pernah ninggalin. Ada rasa hangat yang cuma muncul pas kita benar-benar bersandar pada-Nya.

Dalam pandangan Islam, jatuh itu bukan akhir cerita. Justru sering jadi tanda undangan dari Allah buat kita balik, lebih lembut, lebih sadar, lebih dekat. Allah bilang dalam QS. Az-Zumar:53, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Dan ada juga hadits Rasulullah SAW: “Ketahuilah, pertolongan itu datang bersama kesabaran.” (HR. Tirmidzi). Jadi, meski hidup lagi nendang keras, tugas kita tetap dua: ikhtiar dan doa. Usaha itu pegangan, doa itu bahan bakar, dan tawakal itu rembesan tenang yang bikin kita tetap waras. Selama kita masih mau merangkak pelan, Allah pasti bukakan jalan, meski awalnya cuma selebar celah cahaya. Terus maju, pelan nggak apa-apa. Yang penting nggak berhenti percaya.

Dari Relung yang Hampir Padam

Di tepi gelap aku hampir melepaskan diri dari harapan.
Angin malam menggigilkan doa yang nyaris putus.
Aku berdiri rapuh, menunggu dunia berhenti mengguncang.
Namun dari retak terdalam, cahaya kecil masih memanggilku.

Pelan aku bangkit, membawa luka seperti lentera.
Langkahku goyah, tapi jiwaku kembali belajar terbang.
Aku temukan Tuhan dalam senyap yang menenangkan.
Dan dari pasrah itulah, kekuatanku lahir lagi.

Mas Bojreng dalam diam

#RiseAgain #SilentStrength #FaithAndFire #FromFallToFlight #LightAfterDark
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Tuesday, December 2, 2025

ARchiTecture

Hari itu rasanya kayak dapat “tamparan halus” soal perspektif. Saya belajar bahwa melihat sesuatu dari sudut yang berbeda bisa bikin wawasan tiba-tiba melebar kayak pintu geser yang dibuka penuh. Saya datang ke pameran yang diselenggarakan anak saya dan teman-temannya di jurusan Arsitektur, dengan modal bayangan standar: ya pasti tentang bangunan, denah, maket, dan segala hal teknis yang biasanya cuma dipahami orang yang memang hidup di dunia itu. Saya akui, arsitektur bukan lapangan saya—walaupun dulu sempat lolos ke Fakultas Arsitektur di salah satu kampus, tapi ya akhirnya dunia kedokteran yang jadi rumah saya. Jadi, ekspektasi saya waktu masuk ruangan itu jujur aja… biasa aja.

Tapi ternyata pamerannya mind-blowing. Bukan cuma soal arsitektur bangunan, tapi soal art, cara berpikir, cara generasi muda ini “melihat” dunia lewat garis, bentuk, dan konsep. Saya ngerasa kayak diajak masuk ke kepala mereka—gimana mereka membaca ruang, merespon lingkungan, dan merangkai ide jadi visual yang hidup. Dan itu bikin saya sadar, arsitektur ternyata bukan cuma soal bangunan yang berdiri, tapi juga tentang cerita dan cara pandang. Good job, benar-benar pameran yang keren, segar, dan bikin bangga banget.

Buat saya, art dalam arsitektur ternyata bukan cuma soal estetika atau bentuk yang enak dipandang, tapi bagaimana sebuah karya bisa bikin kita berhenti sebentar dan merasa sesuatu. Di pameran itu, saya melihat bagaimana garis, ruang, tekstur, dan konsep bisa berubah jadi cerita—sebuah dialog antara pikiran pembuatnya dan perasaan yang muncul di diri saya sebagai penonton. Saya jadi ngerti bahwa arsitektur itu bukan hanya “membangun”, tapi merasakan, menerjemahkan ide, dan menghadirkan emosi lewat ruang. Dan di momen itu, saya belajar bahwa seni dalam arsitektur adalah tentang bagaimana karya bisa menyentuh, bukan hanya mengesankan

Hari itu saya datang khusus untuk melihat dunia si sulung dan jujur saya bangga melihatnya. Sampai saya lupa foto bersama si sulung dalam pamerannya itu. Ketika saya melihat ART dalam ARsiTektur.

Perjalanan saya hari itu dimulai dari Jogjakarta, Jepang, Thailand, Malaysia dan diakhiri dengan rumah menurut saya.

https://masbojreng.blogspot.com/2025/12/menyusuri-zaman.html

Catatan Mas Bojreng, inilah hmmm waktu si sulung bertanya apa artinya hmmm saya.


#Architecture #ArtExhibition #CreativeMind #DesignInspiration #ProudParent #PameranArsitektur #SeniVisual #AnakMudaKreatif #IdeBrilian #KaryaAnakBangsa #catatanmasbojreng #masbojreng

Monday, December 1, 2025

Menyusuri Zaman

Saya lahir dari orang tua generasi silent (generasi sebelum baby boomers) , sementara saya sendiri generasi X. Dulu orang tua saya juga suka parno, “Nanti generasi X ini bakal jadi apa, ya?” Lucunya, sekarang malah kebalik: kita yang generasi X sering ngebandingin hidup kita dulu dengan cara hidup anak-anak generasi Z. Padahal tiap generasi punya medan tempurnya sendiri. Makanya pesan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak sesuai zamannya…” itu ngena banget. Dalam Islam pun diingatkan soal keterbatasan pengetahuan manusia — “Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari” (QS. Luqman:34) — jadi wajar kalau tiap generasi berjalan dengan ritme dan ujiannya masing-masing.

Setiap generasi bakal ketemu “monster”-nya sendiri—tantangannya beda, gaya adaptasinya juga beda. Dan itu normal, karena dunia memang nggak pernah statis. Tapi di tengah semua jungkir balik perubahan itu, harapan saya ke anak-anak saya cuma satu: apa pun zamannya, jangan pernah lepas dari Al-Qur’an dan hadis. Pegang itu erat-erat, percaya sama Allah, dan tawakal tiap melangkah. Soalnya di dunia yang serba berubah, fondasi paling kokoh justru ada di situ.

Dan kalau dipikir-pikir, rasa gelisah yang sering datang itu sebenarnya sumbernya sama: kita terlalu fokus sama “nanti” sampai lupa bahwa belum tentu kita sampai ke sana. Kita sibuk membayangkan masa depan yang belum tentu kejadian, sementara yang pasti cuma kematian. Islam ngajarin keseimbangan: usaha dan tawakkal. Ada pengingat yang bikin tenang, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah/94:5–6). Nabi Muhammad pun menegaskan lewat sabdanya: I’qilha wa tawakkal — tambatkan untamu dulu, baru bertawakal. Artinya, kita harus bergerak, berusaha, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Jadi ya, kadang kita perlu mundur selangkah, berhenti buang energi buat hal-hal yang di luar kontrol, dan fokus memperkuat ibadah, ikhtiar, dan keyakinan bahwa ujung dari segala urusan tetap berada di tangan-Nya.

Menyusuri Zaman

Di tiap masa ada resah yang berulang,
dan setiap jiwa belajar menanggungnya.
Generasi datang silih berganti,
namun cahaya tetap mencari hati yang tenang.

Anak-anak berjalan di jalan yang baru,
tapi langit yang menaungi tetap sama.
Peganglah firman-Nya, erat dan tulus,
agar langkahmu tak gentar oleh perubahan dunia.

Perenungan Mas Bojreng

#FaithOverFear #GenerationWisdom #TimelessGuidance #WalkWithTawakkal #HeartsAboveTheWorld
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

You, My Answer

I love you in silent ways, you are everything I am not. In your difference, I rest, that is why I love you. You complete the spaces in m...