Menyusuri Zaman

Saya lahir dari orang tua generasi silent (generasi sebelum baby boomers) , sementara saya sendiri generasi X. Dulu orang tua saya juga suka parno, “Nanti generasi X ini bakal jadi apa, ya?” Lucunya, sekarang malah kebalik: kita yang generasi X sering ngebandingin hidup kita dulu dengan cara hidup anak-anak generasi Z. Padahal tiap generasi punya medan tempurnya sendiri. Makanya pesan Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anak sesuai zamannya…” itu ngena banget. Dalam Islam pun diingatkan soal keterbatasan pengetahuan manusia — “Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari” (QS. Luqman:34) — jadi wajar kalau tiap generasi berjalan dengan ritme dan ujiannya masing-masing.

Setiap generasi bakal ketemu “monster”-nya sendiri—tantangannya beda, gaya adaptasinya juga beda. Dan itu normal, karena dunia memang nggak pernah statis. Tapi di tengah semua jungkir balik perubahan itu, harapan saya ke anak-anak saya cuma satu: apa pun zamannya, jangan pernah lepas dari Al-Qur’an dan hadis. Pegang itu erat-erat, percaya sama Allah, dan tawakal tiap melangkah. Soalnya di dunia yang serba berubah, fondasi paling kokoh justru ada di situ.

Dan kalau dipikir-pikir, rasa gelisah yang sering datang itu sebenarnya sumbernya sama: kita terlalu fokus sama “nanti” sampai lupa bahwa belum tentu kita sampai ke sana. Kita sibuk membayangkan masa depan yang belum tentu kejadian, sementara yang pasti cuma kematian. Islam ngajarin keseimbangan: usaha dan tawakkal. Ada pengingat yang bikin tenang, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah/94:5–6). Nabi Muhammad pun menegaskan lewat sabdanya: I’qilha wa tawakkal — tambatkan untamu dulu, baru bertawakal. Artinya, kita harus bergerak, berusaha, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Jadi ya, kadang kita perlu mundur selangkah, berhenti buang energi buat hal-hal yang di luar kontrol, dan fokus memperkuat ibadah, ikhtiar, dan keyakinan bahwa ujung dari segala urusan tetap berada di tangan-Nya.

Menyusuri Zaman

Di tiap masa ada resah yang berulang,
dan setiap jiwa belajar menanggungnya.
Generasi datang silih berganti,
namun cahaya tetap mencari hati yang tenang.

Anak-anak berjalan di jalan yang baru,
tapi langit yang menaungi tetap sama.
Peganglah firman-Nya, erat dan tulus,
agar langkahmu tak gentar oleh perubahan dunia.

Perenungan Mas Bojreng

#FaithOverFear #GenerationWisdom #TimelessGuidance #WalkWithTawakkal #HeartsAboveTheWorld
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng 

Comments

Popular Posts