Ketika Ilmu Kehilangan Cahaya
Perjalanan kemarin menemukan hal yang menarik, ketika saya menjadi "unknown". Ketika saya memutuskan untuk diam ketika saya tahu.Kadang miris ya, lihat orang yang ilmunya tinggi, gelarnya panjang, tapi dipakai bukan buat mencerahkan—malah buat muter fakta, ngelabui, atau bikin orang lain keliatan bodoh. Dalihnya bisa macam-macam: profesionalisme, strategi, kebutuhan hidup. Padahal kalau ilmu sudah dipisahkan dari nurani, yang jalan bukan lagi idealisme, tapi arah materi. Sayang banget sebenarnya, karena ilmu itu amanah. Begitu dipakai buat ngerugiin orang lain, pelan-pelan integritasnya aus, meski dari luar tampak rapi dan meyakinkan.
Surah Yasin ayat 65 jadi pengingat yang agak “nggak enak tapi perlu”: suatu hari mulut bisa terkunci, tangan yang bicara, kaki yang bersaksi tentang apa yang pernah kita lakukan. Artinya, semua kepintaran buat nutupin kebohongan hari ini, nanti nggak ada gunanya. Yang tersisa cuma jejak perbuatan. Jadi mungkin sebelum pakai ilmu buat keuntungan sesaat, ada baiknya berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri—ini masih sejalan sama nurani, atau cuma bikin hati makin jauh? Karena pada akhirnya, bukan seberapa pintar kita membela diri, tapi seberapa jujur kita menjalani hidup.
Ketika Ilmu Kehilangan Cahaya
Ilmu lahir dari cahaya,
tapi bisa redup oleh niat.
Lidah pandai merangkai kata,
hati pelan-pelan tersesat.
Kelak mulut memilih diam,
tangan bicara tanpa suara.
Jejak langkah tak bisa disangkal,
nurani menjadi satu-satunya saksi.
Mas Bojreng hanya diam
#IntegrityMatters #KnowledgeWithConscience #SilentWitness #MoralReflection #TruthOverGain
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng



Comments
Post a Comment