Sometimes something are better left unsaid

Jempol Cepat, Penyesalan Lambat


Perenungan didalam gua saya malam ini, tiba tiba teringat salah satu quotes yang ada di buku Lupus "Sometimes something are better left unsaid"


Pernah nggak, baru baca satu chat, langsung emosi? Jempol bergerak lebih cepat daripada otak. Diketiklah balasan panjang, lengkap dengan bukti, sejarah, silsilah keluarga, sampai bonus sindiran tipis-tipis. Setelah terkirim… hening. Lima menit kemudian mulai mikir, “Kenapa tadi nggak tidur aja, ya?” 😅 Di situlah kalimat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terasa sangat relate: “Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku, tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku.” Kadang masalahnya bukan kita tidak punya sesuatu untuk dikatakan, tetapi kita terlalu ingin mengatakannya sekarang. Padahal emosi itu seperti hujan deras: terasa harus segera ditumpahkan, padahal kalau menunggu sebentar, langit juga bisa cerah. Dalam kehidupan sehari-hari, diam sering dianggap kalah. Tidak membalas dianggap nggak punya argumen. Tidak ikut komentar dianggap ketinggalan. Padahal bisa jadi justru sebaliknya: orang yang mampu menahan satu kalimat ketika sedang panas sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada orang yang bisa membuat sepuluh kalimat pedas dalam tiga detik. Apalagi di medsos. Dulu kalau kesal, paling cerita ke teman. Sekarang bisa jadi satu story, satu status, satu thread, lalu satu dunia ikut rapat tanpa diundang. Ironisnya, kita sering menganggap “aku cuma jujur” sebagai tiket bebas untuk mengatakan apa saja. Padahal jujur tanpa empati kadang bukan keberanian—cuma emosi yang pakai jas dan dasi.

Tapi jangan salah paham: diam bukan berarti memendam. Kalau ada masalah penting, tentu harus dibicarakan. Kalau disakiti, boleh bilang sakit. Kalau batas kita dilanggar, boleh bilang cukup. Yang perlu dipikirkan adalah: “Aku bicara karena ingin memperbaiki keadaan, atau karena ingin membuat orang lain merasakan sakit yang sama?” Nah, ini bedanya tipis tapi penting. Otak manusia memang punya kecenderungan merespons ancaman dengan cepat; ketika sedang tersulut, kita lebih gampang mencari pembenaran daripada mencari pemahaman. Makanya saat marah, kalimat yang paling terasa benar biasanya bukan kalimat yang paling bijaksana. Kita ingin menang sekarang, sementara konsekuensinya bisa datang belakangan. Di era screenshot, forward, dan jejak digital, “belakangan” itu bisa panjang banget. Satu komentar bisa dicapture. Satu candaan bisa disalahpahami. Satu rahasia yang dibocorkan demi konten bisa menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Jadi sebelum bicara, mungkin ada empat pertanyaan sederhana yang layak dicoba: Benar nggak? Perlu nggak? Waktunya tepat nggak? Dan kalau kalimat ini diterima oleh hati orang lain, kira-kira masih ada manusia yang tersisa di balik layar? Karena tidak semua yang benar harus diumumkan, tidak semua opini harus diposting, dan tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Kadang cinta membuat kita memilih kata yang lembut. Kadang sayang membuat kita memberi jeda. Dan kadang bentuk kedewasaan yang paling romantis justru sederhana: kita tahu sesuatu, kita bisa mengatakan sesuatu, tetapi kita memilih tidak mengatakannya karena tahu hati seseorang bukan tempat sampah untuk membuang semua isi kepala.

Mungkin sebelum mengetik balasan berikutnya, coba kasih jeda beberapa menit. Kalau setelah tenang kalimatnya masih perlu disampaikan, sampaikan dengan baik. Kalau ternyata setelah tenang malah merasa, “Ah, ternyata nggak penting-penting amat,” ya sudah… selamat, hari ini berhasil menyelamatkan satu hubungan dan mungkin satu grup WhatsApp dari episode baru. 😄

“Kadang diam bukan karena kehabisan kata; kita hanya akhirnya sadar bahwa tidak semua orang perlu mendengar isi kepala kita.”

Catatan Mas Bojreng

#KataKataBijak #SelfReflection #BijakBermedsos #BelajarDewasa #Kehidupan #catatanmasbojreng #masbojreng 

Comments

Popular Posts