Di Kerajaan Ngupi, Yang Paling Pahit Bukan Kopinya
Di Kerajaan Ngupi, Yang Paling Pahit Bukan Kopinya
Di ujung galaksi sana, ada sebuah kerajaan bernama Ngupi. Di sana, kopi bukan sekadar minuman, tapi juga obat bagi jiwa yang lelah. Raja mendirikan Badan Kopi Poldemor, atau BKP, yang menanggung biaya secangkir kopi rakyatnya. Semua tampak indah di atas kertas. Tapi di balik aroma kopi yang hangat, ada para barista dan pemilik kafe yang harus menalangi semuanya lebih dulu, menunggu pembayaran yang kadang datang terlambat, kadang dipotong, bahkan kadang diminta kembali setelah uangnya habis dibelanjakan. Anehnya lagi, harga satu cangkir kopi tak boleh naik, sementara biji kopi, susu, gula, listrik, air, dan sewa terus merangkak naik.
Ada barista bernama Bojreng bekerja di salah satu kafe di kerajaan itu. Upah si Bojreng berasal dari sisa setelah semua biaya dipotong. Artinya, ketika harga bahan naik dua puluh persen dan harga jual tetap, bagian yang Bojreng terima bisa mengecil, bahkan mungkin hilang. Ada saat ketika pelanggan meminta tambahan topping, tetapi harga tak boleh berubah, dan pemilik kafe justru harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Adil atau tidak, bojreng masih berdiri di belakang mesin kopi, tetap tersenyum, tetap menyeduh secangkir demi secangkir. Bukan karena si Bojreng tak tahu risikonya, tetapi karena Bojreng mencintai dunia perkopian ini. Bojreng masih percaya bahwa idealisme, integritas, kejujuran, dan rasa dalam secangkir kopi adalah warisan dari guru-guru barista nya dahulu. Beberapa teman barista disekitarnya sudah berubah, berusaha kompromikan kopinya dan tunduk pada BKP, bahkan sudah cenderung menjadi "dark side of being barista" walaupun mereka tahu dan sadar sudah tidak sesuai dengan hati nurani atau ilmu yang diajarkan oleh guru guru barista.
Ada memang beberapa pelanggan kopi yang tidak memakai fasilitas yang disediakan kerajaan tersebut, atau BKP. Dan selalu membayar cash atau melalui debit, atau qris atau kartu kredit. Tapi si Bojreng konsisten tidak membeda bedakan, selalu ada senyum di wajahnya dan selalu membuatkan kopi sesuai dengan rumus rumus yang benar seperti yang diajarkan oleh para guru baristanya dahulu.
"Integritas adalah tetap membuat secangkir kopi terbaik, bahkan ketika tidak ada yang menghitung pengorbanan di baliknya."
Kadang hidup memang seperti membuat kopi. Tidak semua yang taste nya pahit berarti buruk, dan tidak semua yang rasanya manis pasti adil. Masih ada orang-orang yang tetap bekerja dengan hati meski penghargaannya tak selalu sebanding dengan pengorbanannya, hanya Lillahi ta'ala sebagai niat. Sampai kapan Bojreng akan tetap membuat kopi? Bojreng berkata sampai napas terakhir, karena pengabdian sering kali tidak dihitung dengan angka. Karena pada akhirnya semuanya akan dan harus dipertanggungjawabkan. Tapi di tengah semua itu, satu pertanyaan masih menggantung seperti uap di atas cangkir: jika orang yang menjaga rasa terus diminta berkorban, siapa yang akhirnya akan menjaga mereka?
'Yang paling pahit dalam hidup bukanlah ketika pengorbanan tidak dihargai, melainkan ketika demi bertahan kita diminta mengorbankan kejujuran, idealisme, dan integritas. Dan orang yang berusaha mempertahankannya dibilang bodoh dan sok moralis'
Tapi ini cerita tentang perkopian dan bukan yang lain, jangan baperan yaaaaa.
Catatan Mas Bojreng
#Kopi #BaristaLife #CeritaKehidupan #RefleksiHidup #NgopiDulu #catatanmasbojreng #masbojreng



Comments
Post a Comment