Sunday, January 25, 2026

Rak yang Tak Pernah Penuh

Sejak kecil saya selalu punya mimpi agak “nggak masuk akal” versi anak-anak: satu ruangan penuh buku, dari tembok ke tembok, dari lantai sampai langit-langit. Rak kayu, bau kertas, dan sunyi yang ramah. Mimpi itu tiba-tiba muncul lagi waktu nonton drama Korea Can This Love Be Translated?, tepatnya saat kamera menyorot perpustakaan di rumah kakek Joo Ho-jin. Di ceritanya, kakek dari pihak ibu itu seorang cendekiawan, kolektor buku kelas berat—bahkan di episode terakhir disebut punya satu buku cetakan pertama Charles Dickens, meski judulnya dirahasiakan. Entah kenapa, adegan itu rasanya hangat dan bikin iri dalam cara yang menyenangkan: betapa asyiknya hidup dikelilingi buku, bukan cuma dibaca, tapi disimpan sebagai jejak waktu.

Sampai sekarang kebiasaan itu masih kebawa. Kalau ketemu buku yang menarik, refleksnya beli dulu—soal dibaca kapan, itu urusan nanti. Soalnya saya sering ngalamin, buku yang dulu sempat saya beli, sekarang malah sudah nggak ada lagi di pasaran. Hilang begitu saja. Dan lucunya, buku-buku ini bukan cuma ngumpulin debu atau nostalgia; hidup saya juga pernah belok gara-gara buku. Saya ketemu cinta saya pun bermula dari buku yang saya pinjam—baik itu catatan sekolah atau novel, haha. Yang jelas, dari rak buku kecil itu, ceritanya jadi panjang.

Rak yang Tak Pernah Penuh

Sejak kecil aku bermimpi sunyi,
dinding penuh buku sampai langit.
Kayu, kertas, dan waktu,
tersimpan rapi tanpa suara.

Aku membeli sebelum hilang,
membaca nanti, entah kapan.
Dari buku aku bertemu cinta,
rak kecil, cerita yang panjang.

Catatan Mas Bojreng

#BookLovers #ReadingLife #DreamLibrary #KDramaVibes #StoryOfLife
#poem #poetry #poetsofinstagram #poets #poet #poetrycommunity #catatanmasbojreng #masbojreng

No comments:

Post a Comment

You, My Answer

I love you in silent ways, you are everything I am not. In your difference, I rest, that is why I love you. You complete the spaces in m...